Showing posts with label another day. Show all posts
Showing posts with label another day. Show all posts

Kecanduan Twitter

Ya, untuk beberapa hari ini ada satu hal yang sangat membuatku kecanduan. Bukan, bukan Farmville. Sampai saat ini memang saya masih menekuni menjadi petani di dunia maya, tetapi tidak seperti dulu kecanduannya. Yah, kalo sehari tidak bertani juga sudah tidak apa-apa.

Lantas yang menjadi kecanduan baru saat ini adalah nge-twit! Hahaha, emang ketinggalan euy! Setahun yang lalu kala saya masih di Asta, Twitter sebenarnya menjadi salah satu alat untuk berpromosi. Cuma yah itu, saya malam. Berpikir tidak ada untungnya nge-twit. Dasar geblek! Soalnya saya belum paham tentang apa itu Reply To, ReTweet, dan sebagainya. Tapi sekarang? Hohoho, dimana-mana sudah harus nge-Twit.



Jadi, follow me @iqkoberuang dan selamat berjumpa di Timeline saya :)

Perempuan dan identitasnya.

Ada satu hal menarik yang saya dapatkan ketika menjadi Mc dan mengikuti perayaan Hari Kartini yang dilakukan oleh ibu-ibu Dharma Wanita di kantor hari selasa dan rabu kemarin. Benarkah perempuan akan kehilangan identitasnya ketika sudah menikah?

Bukan, ini bukan pertanyaan sesinis dan sesarkastis yang seperti biasa saya lontarkan. Hanya sedikit perasaan tergelitik saja. Bahwa seorang perempuan akan kehilangan nama sebenarnya ketika telah menikah. Memangnya salah?

Satu moment menarik ketika saya menjadi Mc acara tersebut adalah ketika ingin mempersilahkan Ketua Dharma Wanita Persatuan untuk memberikan kata sambutannya. Sayapun bertanya pada salah satu wanita, nama lengkapnya siapa? Jawaban yang saya terima cukup sederhana namun cukup menohok. Tidak usah menggunakan nama aslinya. Cukup memanggilnya dengan Ny. Xyz saja. What?



Bukankah setiap orang sudah memiliki nama indahnya masing-masing? Walaupun seorang penyair pernah berkata apalah arti sebuah nama, tapi tetap saya menganggap bahwa nama adalah sebuah identitas yang penting. Dalam sebuah nama terdapat doa-doa para orangtua. Pemberian nama pun tidak sembarangan prosesnya. Butuh satu ekor kambing yang dikorbankan untuk perempuan, dan dua ekor untuk lelaki. Dan nama itu seenaknya mau diubah?

Entahlah, apakah memang ini hanya perasaan saya saja atau bukan. Tapi rasanya memang dimana-mana kita temui kenyataan seperti ini. Misalnya ketika ibu-ibu sedang ngumpul –dan bergosip- biasanya mereka memperkenalkan (atau diperkenalkan) seseorang dengan menyebut nama suami terlebih dahulu. Dan ini akhirnya terbawa sampai nanti. Bahwa seorang perempuan akan lebih akrab dipanggil sebagai Nyonya Andi, Ibu Budi dan sebagainya.

Apakah ini menjadi masalah? Entahlah. Karena saya sendiri belum pernah merasakan nama saya dipanggil memakai nama orang lain. Saya sendiri pasti merasa aneh. Apakah memang karena saya sendiri belum berkeluarga? Dan kenapa harus perempuan yang kehilangan identitasnya? Pernahkah seseorang dipanggil sebagai Tuan Rini atau Bapak Wati misalnya?

Belum lagi ketika seorang perempuan sudah memiliki anak. Namanya akan berubah lagi. Menjadi ibunya iqko, bunda Bila dan lain sebagainya. Apakah ini akah menjadi persaingan tersendiri? Diantara mereka yang lajang, yang biasanya masih dipanggil dengan nama asli, melawan mereka yang sudah menikah, (yang dipanggil dengan nama suami) dan mereka yang sudah menikah dan punya anak (yang dipanggil dengan nama anaknya).

Lantas bagaimana nanti ketika dia cerai (mudah-mudahan tidak!)? Ketika dia sudah dikenal dengan nama suaminya, dan sekarang harus jalan sendiri. Dia dipanggil apa?

Rasanya kehidupan pasca menikah pun seorang perempuan harus dikenal dengan nama aslinya. Tidak perduli nama suami atau nama istrinya nanti sebagus apa. Karena ini terkait mengenai identitas pribadi.

Tidak perlu rasanya mengembel-embeli diri dengan panggilan pasangan, karena toh semuanya punya kehidupan masing-masing? Ataukah saya yang salah melihatnya? Karena setelah menikah nantipun saya akan mengenalkan istri saya sebagai dirinya sendiri. Bukan dengan nama saya.

Selamat Hari Kartini untuk seluruh perempuan, tetap pegang identitasmu, siapapun dirimu :)

Kisah si perenang amatiran (bagian 1)

Entah sudah berapa kali postingan mengenai saya yang berusaha menjadi sehat ada di blog ini. Mulai dari resolusi hidup sehat, niat untuk berolahraga, dan semuanya itu gagal! Tidak ada yang berhasil. Sampai angka timbangan sudah sampai ke angka 99++ dengan segala konsekuensinya.

Tapi kenyataan itu bertambah menyeramkan ketika saya masuk di kantor yang baru. Kenapa? Disini justru saya kebanyakan duduk. Bisa dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore. Belum lagi ditambah asupan makanan berlemak –kenapa semua makanan enak itu selalu membawa dosa?- di tiap rapat atau sesi makan gratis lainnya. Mau mati muda?

Saya pikir tidak. Kiprahku masih panjang. Masih banyak hal yang ingin saya lihat dan ingin saya lakukan. Tapi bagaimana caranya kalau gaya hidup seperti itu? Olahraga cuma seminggu sekali, sementara asupan racun bisa berlangsung tiap hari. Ini harus dihentikan!

Akhirnya setelah memikirkan berbagai macam alternatif olahraga, akhirnya saya memutuskan untuk melakukannya. Fitness? Tidak. Saya masih parno akan kemungkinan badan yang semakin melar kalau fitness tersebut tidak berkelanjutan. Bersepeda? Duit saya belum cukup buat membeli sepeda yang rasanya menjadi semakin mahal. Lari? Huff! Banyakan capeknya. Lagian efek cedera menjadi terlalu besar karena tungkai yang kecil belum mampu menopang badan yang segede-gede gaban. Jadi?



Renang! Akhirnya saya memilih jurus ini untuk sedikit mengeraskan dan menghilangkan gumpalan lemak di tubuh. Ada ketakutan yang menghantui sebenarnya, saya belum bisa terlalu berenang. Itupun kalau ke kolam atau ke pantai, banyakan main airnya daripada berenang. Sebentar apa yang dikatakan orang? Kalau saya tenggelam?

Pertanyaannya lagi, saya mau berenang dimana? Celana renangnya mau bagaimana? Beli? Dimana? Berapa harganya? Hahhaha. Kok kayaknya ribet banget yah! Tapi berhubung niat yang sudah membulat, maka saya pun memulai perjuangan saya sebagai perenang amatiran.

Yang pertama dilakukan adalah berburu celana renang! Dimana saya bisa mendapatkan celana renang yang cocok untuk beruang? Saya sempat mengikuti saran seorang teman di kantor, katanya cari di Barata. Sebuah toko pakaian di daerah pantai Losari. Beberapa kali niat ini selalu gagal, tapi begitu kesampaian ternyata hasilnya pun tidak sesuai dugaan. Pas saya menanyakan celana renang yang dimaksud, mbak-mbak penjaganya cuma bilang,

“maaf pak. Tidak ada ukuran untuk bapak”


Wtf! Apalagi penjaga toko itu mengatakannya tanpa merasa bersalah sedikitpun! Akhirnya saya bingung lagi, mau cari dimana? Lokasi kedua : matahari! Disini baru saya mendaptkan yang sesuai, yah Cuma satu masalahnya. Harganya ngajakin miskin banget! 189. 000 rupiah. Huhuhuhu. Mau makan apa saya selama sisa sebulan ini? Tapi yasudlah. Daripada besok yang kenapa-kenapa, akhirnya celana ini terbeli juga.

Rencana kedua adalah hunting kolam renang. Dimana? Kapan? Bagaimana? Dari sekian banyak kolam yang ada di Makassar, hanya ada ebberapa tempat yang rekomendasi mengenai kebersihannya. Untuk waktu sih, sepertinya tidak ada waktu lain selain sore hari. Kolam Mattoangin? Kejauhan dari kantor, belum dapat macetnya selama perjalanan. Pasti sampai disitu kolamnya sudah tutup. Unhas? Kayak tidak tahu saya kolam renangnya diisi pakai air dari mana. Dari danau unhas cint! Kolam hotel? Nggak tahu harganya berapa, pasti lebih ngajakin miskin banget lagi. Dan akhirnya pilihannya jatuh ke padepokan Tirta Lontara. Murah, meriah, dekat dari kantor.

Semua persiapan sudah siap, jadi tunggu apa lagi?

Jodoh, dijodohkan, terjodohkan, menjodohkan

Sepertinya blog saya ini sudah memiliki evolusinya sendiri. Tidak terdefenisikan tapi bisa terlihat. Sempat terlantarkan, sempat terlupakan, tapi tetap bisa menjadi sahabat yang bisa diandalkan untuk berbagi cerita. Seperti hidup yang terus mengalir, kali ini ijinkan saya untuk mengenalkan satu fragmen lagi dalam babak kehidupan saya. Terinsipirasi dari catatan Okke dalam blog lajang dan menikah, sepertinya saya akan mulai memasuki fase hidup ini :D

Memasuki bulan kedua di kantor yang baru, tiba-tiba seorang teman dari bagian keuangan bertanya,

“Qko, sudah punya pacar kah?”

Hah? Dari mana kemana maksud pertanyaan ini? Secara setahu saya bahwa sang penanya merupakan istri orang. Lengkaplah saya dengan muka cengengesan tidak tahu mau menjawab apa dari pertanyaan seajaib itu.

Jawaban saya sederhana. Pacar tidak ada, HTS an banyak. Itu jawaban saya dari dalam hati. Tidak mau menyebutkan secara gamblang. Pasalnya waktu itu saya sedang mempertahankan image sebagai pegawai baru dengan akhlak mulia. I’m young, and I’m single. Status apa lagi yang bisa sekeren itu?

Dikemudian hari barulah saya mengetahui alasan dibalik pertanyaan sporadis itu. Ternyata sang teman punya teman lagi yang ingin dikenalkan kepada saya. Berprofesi sebagai suster di lain wilayah Sulawesi Selatan. Niatan awalnya sih cuma diperkenalkan. Tujuan jangka panjangnya? Dijodohkan!



Hah? Pertama, seumur hidup memang rasanya belum ada yang menanyakan hal seserius itu kepada saya. Pacar? Untuk apa? Palingan itu jawab saya. Karena beberapa tahun yang lalu saya memiliki banyak teman (khususnya wanita) yang bisa diajak jalan dan bersenang-senang selayaknya pacaran. Walaupun minusnya kami berhubungan tidak pake hati dan perasaan. Cukup bersenang-senang saja. Dan dulu saya merasa itu cukup. Sekarang? Saya merasa itu kurang. Huhuhuhuhu.

Kedua, dijodohkan? Emang sekarang masih jaman Siti Nurbaya? Saya teringat lagi dengan nasib seorang teman di kantor. Demi mengikuti keinginan ayah tercinta, dia sudah mengikat janji sehidup semati dan siap dinikahkan dengan wanita pilihan ayahnya. Alasannya? Kasihan ayahnya sudah sakit-sakitan. Maunya harus dituruti. Loh, yang mau menikah kan kamu? Bukan ayah kamu?

Ah, ternyata pernyataan saya masih sangat skeptis dan sarkastis mengenai cinta. Apa mau dikata? Saya masih belum berhenti mempercayai bahwa saya termasuk orang yang sulit jatuh cinta. Walaupun salah sendiri, pernah merasa sakit hati dan kemudian merasa trauma untuk menjalin sebuah hubungan yang lain. Pernah sih, ada beberapa orang yang terang-terangan mengirimkan sinyal tertarik. Bahkan dengan bantuan teman-temannya, sang wanita terus melancarkan serangan cintanya. Sikap saya? Malah mengajak salah satu HTS an untuk jalan berdua di depan wanita tersebut, dengan harapan dia mengerti bahwa saya tidak merespon sinyal yang diberikannya. Jahat yah?

Karena menurut saya jodoh itu sudah diciptakan untuk kita di belahan dunia ini. Entah dia terlempar dimana. Hanya butuh waktu dan tempat yang tepat untuk bisa bertemu dengannya. Itu dulu konsep cinta ideal yang ada di kepala saya. Kalau sampai di jodohkan mah, apa dikiranya saya sudah tidak mampu mencari pacar sendiri? Walaupun ternyata jawabannya iya.

Sampai saat ini saya belum memberi jawaban atas pertanyaan teman kantor tersebut. Apakah saya mau dikenalkan dan dijodohkan dengan temannya. Rasanya geli saja. Harus memerlukan bantuan pihak ketiga untuk bisa merasakan cinta. Lantas apa yang harus saya lakukan dengan semua HTS an saya? Hahahaha.

Mungkin akan tiba saatnya dimana saya juga sudah harus berhenti bertualang. Mulai bersikap serius tentang hidup dan menikah. Toh tidak selamanya kita akan menjalani hidup yang seperti ini terus kan?

What will (kills) the radio star?

Saya sedikit tersenyum ketika kemarin membaca beberapa status teman-teman saya di FB. Dari bagaimana kemacetan melanda, hujan, bahkan status terbaru tentang skala percintaan mereka. Satu yang paling menarik perhatianku adalah status dari mantan salah seorang penyiar radio remaja di Makassar. Statusnya seperti ini,

“Sore-sore begini enaknya ngapain yah? Dengarkan saja radio Ma**ma, we have trainee kiddos for you”

Dalam hati saya berkata,

“wah mereka sudah punya anak baru lagi?”.


“Anak baru”. Yah, seperti itulah kami memberikan julukan, nama, atau apalah istilahnya untuk mereka yang mau menjual jiwa mereka menjadi penyiar radio. Saya masih ingat ketika di tahun 2003, saya nekat untuk memasukkan lamaran dan CV saya sebagai penyiar juga. Bersaing dengan hampir 50 orang untuk mengisi satu slot siaran. Hasilnya? Pengalaman yang sangat menyenangkan.



Nah, kembali ke masalah penyiar baru tadi. Saya kemudian berpikir apakah mereka akan sanggup tampil beda dan berjuang sampai memiliki nama? Karena keadaan sekarang berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Apalagi untuk segmentasi yang menyasar anak muda. Kenapa? Segmen ini sangat cair. Mereka sangat mudah disetir seleranya. Apalagi ketika mereka bergabung dalam sebuah geng ataupun sekte. Dimana keseragaman menjadi aturan utamanya.

Seorang penyiar bisa menjadi “local celebrity”. Siapa yang tidak akan menghapal nama kamu ketika kau tidak henti-hentinya berbicara dari pukul 6 pagi sampai pukul 9 pagi? Ataupun dari pukul 7 sampai pukul 10 malam? Seorang penyiar radio bahkan bisa menjadi sahabat yang paling dekat. Memasuki ruang intim pribadimu. Laki-laki mana yang berani memasuki kamar seorang cewek di atas jam 10 malam? Walaupun hanya dalam bentuk suara.

Radio menjadi teman ketika ngobrol bersama teman, menjadi teman belajar, bahkan saya pernah merasakan bagaimana deg-degan nya menunggu request-an saya diputar oleh sang empunya acara. Coba saja menelepon Satu acara di jam prime time (jam pagi, tengah hari ataupun malam hari), entah itu sekedar request ataupun ikut ngobrol, pastilah jarimu akan gemas menekan tombol telepon. Saking banyaknya orang yang ingin menelepon. Apakah hal ini masih berlangsung sama?

Beberapa tahun lalu ketika distraksi perhatian belum sebanyak sekarang, radio bisa menjadi sarana hiburan utama (atau bahkan menjadi media utama) bersanding dengan televisi dan koran. Sekarang? Ada aneka ria jejaring sosial. Dimana ketika beberapa remaja berkumpul, dengan laptop dan koneksi internet, mereka justru lebih nyambung dan nyaman ngobrol dengan fasilitas chat. Aneh. Belum lagi aneka mall yang terus bertambah. Secara tidak langsung ini merubah pola hidup mereka yang lebih banyak bersentuhan dengan dunia luar. Apakah mereka masih memiliki waktu untuk mendengarkan radio?

Ada lagi ada satu juta situs yang tersedia di internet untuk mengunduh lagu secara gratis. Mp3 bajakan di bertebaran dimana-mana.

“untuk apa menunggui sebuah acara di radio hanya untuk mendengarkan sebuah lagu? Toh saya sudah punya lengkap koleksi albumnya.”


Bisa saja pertanyaan itu yang muncul. Ketika era Mp3 bertebaran dimana-mana. Sekarang ketika kita sedang dikuasai pop Indonesia, bahkan televisi pun tidak mau ketinggalan merasakan fenomena ini. Berlomba-lombalah mereka mencari presenter yang cantik, menarik, lucu, yang bahkan tidak jelas mereka melawak ataukah membawakan suatu acara. Semakin terdistraksi lah lagi pendengar radio.

Semakin menariklah bagaimana seorang penyiar (radio) harus bisa terus survive dimasa sekarang. Dimana mereka tidak hanya mengandalkan musik dan lagu terbaru saja sebagai senjata utama. Karena hal tersebut sudah semakin mudah didapat. Mereka harus memilki style dan gaya sendiri. Supaya mereka tetap bisa di notice dan menjadi “local celebrity” berikutnya. Selamat berjuang guys!

Caraka, bukan profesi yang bisa diremehkan.

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah artikel di sebuah tabloid-yang-saya-sudah-lupa-namanya mengenai profil seorang Bapak yang menjadi pengantar surat di Masjid Istiqlal. Apa yang membuatku takjub? Mungkin untuk mesjid di sekitar rumah, tidak membutuuhkan administrasi persuratan yang bisa menyamai kantor walikota. Tapi Mesjid Istiqlal? Singkat kata, sang Bapak bercerita mengenai pengalamannya mengantar surat untuk penceramah, atau undangan buat pejabat-pejabat di Jakarta untuk acara-acara khusus. Dengan modal utama sebuah sepeda motor, dia menembus gang demi gang untuk bisa sampai ke alamat tujuan.

Satu cerita lagi, pekan lalu saya sempat bertemu dengan seorang pak pos. Tepatnya sengaja ketemu karena beliau sudah kebingungan mencari satu alamat rumah. Berbekal wangsit dari saya yang-lumayan-kurang-bisa-dipercaya, akhirnya Pak Pos berhasil mendapatkan rumah tersebut.



Saya tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang pegawai pos. mungkin karena korespondensi persuratan saya sudah berakhir di jaman SD. Dengan satu sahabat pena dari Sumatra Utara. Urusan untuk ke kantor pos pun sekarang didasari dengan niat yang tidak biasa. Entah untuk membayar kreditan motor atau membayar rekening telepon. Beberapa bulan lalu saya mengunjungi kantor pos dengan ikhlas dan berniat berkirim surat. Surat apa? Apa lagi selain berkas CPNS saya? Hahaha.

Akhirnya kemarin saya diberi kesempatan untuk merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang Caraka, Pengantar Surat, Pak Pos, ataupun istilah lainnya. Berbekal belasan surat tender yang harus dikirimkan kepada klien, maka melajulah saya bersama Caraka kantor. Loh, kok saya juga ikut? Berhubung surat tender ini isunya sangat sensitive, maka dibutuhkan bukti otentik bahwa surat tersebut memang telah sampai ke alamat dan tangan yang pas. Nah, disitulah peran saya. Memegang kamera dan membuat dokomentasi dari setiap surat.

Perjalanan menembus ujung Timur Makassar, yeah! Daerah Samata, Jipang, dan Minasa Upa, sampai ke bagian utara kota, yaitu daerah Sulawesi dan Banda, daerah Selatan kota Makassar, Cendrawasih, Tanjung dan Kumala, sampai akhirnya masuk ke pertengahan kota lagi. Yang menjadi urat terbesar dari jalan di kota Makassar. Yaitu jalan Pettarani.

Bagian tersulitnya adalah ketika banyak sekali alamat yang sudah berpindah, masuk lorong, penuh dengan jalanan becek (ini musim hujan teman!),sampai harus melakukan cara primitive untuk bisa sampai ke alamat tujuan. Yaitu bertanya sana sini. Sebenarnya pengalaman ini sudah pernah dan biasa saya lakukan. Di komunitas pun, saya yang sering bertugas mengantarkan undangan ataupun proposal ke seluruh penjuru mata angin. Bedanya? Kalau persuaratan kami saling berbagi tugas, sedangkan sekarang harus menghandle satu kota sendirian.

Dulu saya masih sering menganggap enteng profesi Caraka. Sebuah bukti keangkuhan karena berada di posisi lapisan atas. Tanpa pernah berpikir bahwa kami ini semua hanyalah bagian dari satu sistem yang lebih besar. Satu bagian saja yang tidak jalan maka keseluruhan sistem bisa chaos.

Sebuah bagian kecil yang terkadang terlupakan. Bagaimana sebenarnya sebuah posisi juga mempunyai tanggung yang sama. Hanya lingkup kerjanya saja yang berbeda. Mungkin saya beruntung masih bisa mengenyam bangku kuliah. Kalau tidak, posisi saya mungkin juga sama dengan Caraka tersebut.

Akhir-akhir ini saya pun sering sekali mendengar ungkapan walk in my shoes. Kita terkadang memasang stereotype seenak jidat dan tidak pernah membayangkan, bagaimana kalau kita berjalan dengan memakai sepatu orang lain? Atau sedikitlah mencoba bagaimana rasanya menjalani peran orang lain.

Setidaknya kemarin saya mendapat satu pelajaran lagi. Bahwa kita semua sudah memiliki peran dan kisah masing-masing. Tidak usah saling membandingkan antara Caraka, Pegawai ataupun posisi yang lain. Karena masing-masing mempunyai tanggung jawab dan permasalahannya masing-masing. Dan satu yang penting, menjadi seorang Caraka itu tidak mudah. Percayalah!

Satu Dekade Ininnawa, Lomba Resensi Buku dan sebagainya.

Inilah sebagian jejak kami. Sebagai sebuah komunitas, umur 10 tahun bukanlah waktu yang singkat. Dalam rangka (ya olo!) peringatan satu dekade komunitas tercinta ini, silahkan ikut Lomba Resensi Penerbit Ininnawa!



Lomba Resensi Penerbit Ininnawa


Peserta

Terbuka untuk mahasiswa [S1 dan sederajat] se-Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.

Total Hadiah Senilai Rp. 5.000.000
[Uang Tunai + Paket Buku Ininnawa + Paket Buku Graha Media + Voucher Belanja Buku]


Ketentuan

I. Karya asli; bukan jiplakan.

II. Peserta meresensi buku yang ditentukan oleh panitia dan tim juri, yaitu:

1. Perkawinan Bugis: Refleksi Status Sosial dan Budaya di Baliknya (Ininnawa, Desember 2009)

2. Kuasa Berkat dari Belantara dan Langit: Struktur dan Transformasi Agama Orang Toraja di Mamasa, Sulawesi Barat (Ininnawa-KITLV Jakarta, November 2009)

3. Kekuasaan Raja, Syeikh, dan Ambtenaar: Pengetahuan Simbolik dan Kekuasaan Tradisional Makassar 1300-2000 (Ininnawa, Mei 2009)

4. Kuasa dan Usaha di Masyarakat Sulawesi Selatan (Ininnawa-KITLV Jakarta, Maret 2009)

III. Melampirkan fotokopi kartu tanda pengenal/mahasiswa.

IV. Peserta mengirim via email ke

saintjimpe@gmail.com atau lelakibugis@gmail.com atau m.aan.mansyur@gmail.com


atau mengirim/mengantar langsung ke:

Penerbit Ininnawa
Jalan Abdullah Daeng Sirua 192 E
Makassar 90234


Batas waktu : Karya peserta paling lambat dikirim tanggal 5 Februari 2010 (cap pos).


Pemenang akan diumumkan di acara peluncuran buku pada pukul. 09.00 Wita tanggal 12 Februari 2010, di Komunitas Ininnawa, Jl Perintis Kemerdekaan Km-9 90245.


Pelaksana

Penerbit Ininnawa
Toko Buku Graha Media

My Sister’s Keeper, (semestinya) sebuah pelajaran tentang cinta dan kehidupan.

Siapakah yang akan kau pilih ketika berada dalam poisisi seorang orang tua, anak yang sakit atau anak yang sehat dan dipaksa sakit hanya untuk menyelamatkan nyawa sang kakak. Caranya? Dengan menyumbangkan dan memberikan organ tubuh untuk tetap menjaga kelangsungan kehidupan sang kakak dengan melakukan operasi demi operasi.



Film ini merupakan sebuah saduran dari buku Jodie Picoult dengan judul yang sama. Bagaimana jalan ceritanya? Silahkan simak di postingan yang ini. Kali ini melalui tangan Nick Cassavettes, luapan emosi Anna Fitzgerald dalam menuntut keluarganya sendiri akan kita rasakan selama perjalanan film ini. Tapi sayang seribu sayang, saya mesti mengatakan bahwa film ini GAGAL!!!

Kenapa? Bukan permasalahan interpretasi, saya tahu bahwa film dan buku adalah dua media yang berbeda. Kita tidak boleh membawa imajinasi kita ketika menyaksikan sebuah buku yang difilmkan. Tapi bagaimana kalau ternyata jalan ceritanya terpelintir sedemikian jauh?

Sepertinya inilah yang menimpa film My Sister’s Keeper. Saya langsung merasakan déjà vu dengan film Cat Woman yang dibintangi Halle Berry. Dimana Cat Woman jauh dari gambaran orang-orang. Dan akibatnya apa? Film tersebut dicerca dimana-mana. Beginilah nasib My Sister’s Keeper. Saya sendiri heran, kok film ini bisa-bisanya tidak booming? Mengingat novelnya sangat menguras perasaan dan penuh dengan ending yang tidak tertebak. Sedangkan di filmnya? Holy Shit!!! Bagaimana bisa mereka melakukan hal itu?

Entah saya mesti menyalahkan siapa, apakah Nick Cassavetes selaku sutradara, Jeremy Leven sebagai penulis scenario, ataukah sang empunya buku, Jodie Picoult sendiri? Ada BANYAK poin yang sangat hilang dalam film ini. Peran-peran kecil namun sangat berpengaruh pada jalan cerita dan emosi yang tertuang.

Okelah, mungkin saya telah mengenal cerita ini pertama kali dari bukunya. Saya pun telah menyebutkan dalam postingan yang ini, bahwa kita harus memilih satu saja, antara menonton filmnya saja, atau membaca bukunya saja. Tapi kenapa saya tidak kecewa pada interpretasi yang dilakukan oleh sutradara film Twilight atau film yang disadur dari buku lainnya?

*emosi mode ON

Dari sisi sinematografi, ada banyak gambar cantik yang disuguhkan. Bagaimana alur yang bisa saja menceritakan saat sekarang, mundur ke belakang semuanya bisa dihadirkan dalam takaran yang pas. Tidak terburu-buru. Cara bercerita yang diambil dari sudut pandang masing-masing tokoh pun bisa terekam dengan jelas. Bagaimana sudut pandang mengenai sesuatu bisa saja berbeda ketika dilihat oleh orang yang berbeda.

Akting para bintangnya pun sangat mengagumkan. Cameron Diaz bermain sangat apik. Memainkan emosi seorang ibu yang berusaha melakukan apa saja untuk menyelamatkan anaknya yang terserang leukemia. Salah satu bintang lainnya yang patut diperhatikan adalah Abigail Breslin. Inilah anak yang diramalkan menjadi the next Dakota Fanning. Dengan kemampuan akting yang sangat bagus.



Cuma sayangnya, peran Anna Fitzgerald (tokoh yang diperankannya) sangat minim. Bahkan semua cerita seolah-olah dititik beratkan kepada Kate Fitzgerald. Tapi sebenarnya bukan itu inti ceritanya. Ada banyak hubungan emosional lain yang sepertinya tidak bisa dieksplor dan dieksekusi yang baik. Hubungan antara Jesse Fitzgerald selaku anak pertama dengan kedua orang tuanya, hubungan antara Anna setelah menuntut kedua orangtuanya sendiri, sampai hubungan ajaib antara Anna dan Kate. Semua ini lolos dari ramuan sang sutradara.

Pada akhirnya saya harus mengatakan bahwa saya sangat kecewa dengan film ini. Berbanding terbalik dengan novelnya. Sepertinya memang menghabiskan waktu dengan imajinasi sendiri lebih bagus ketimbang melihat hasil karya orang lain dan hasilnya sangat berbeda.

Sebuah cerita tentang dia.

Rasanya sudah lama saya tidak bercerita mengenai kisah cinta. Sebuah rasa yang saya pikir telah lama menghilang. Tapi bukankah itu berarti saya melanggar kodrat sebagai manusia? Karena mencinta merupakan sifat dasar yang telah menjadi bawaan dan akan selalu ada.



Setiap saat ada orang yang bertanya, “mengapa tidak menjalin dan membuka sebuah hubungan baru?”,

jawaban saya selalu sama,

“untuk apa? Ada banyak sahabat dan teman yang bisa saya ajak berbagi. Sahabat yang selalu mengerti, sahabat yang selalu ada”

Tapi rasanya jawaban itu hanya berlaku beberapa tahun yang lalu. Disaat semua sepi bisa tertutupi oleh rutinitas di kampus, riuhnya tawa bersama teman, atau lelahnya pikiran karena organisasi. Sepi itu tidak pernah menyeruak ke alam sadar. Toh, walalupun sepi itu datang menyerang, ada seribu alasan untuk langsung menimbunnya dalam-dalam.

Memang selama beberapa rentan waktu yang lalu, selalu ada orang bermain di dalam perasaan. Rasa ingin memiliki dan dimiliki juga ada. Tapi rupanya kecewa masih menjadi jawabanya. Mereka hanya ingin melihat apa yang mereka mau. Tanpa memikirkan beginilah saya apa adanya. Akhirnya mereka hanya menjadikan hati saya sebagai tempat sampah. Yang akhirnya mematikan perasaan ingin mencinta itu.

Sekarang keadaan berkata lain. Semua orang telah berdewasa. Sahabat-sahabat yang bersama saya telah memasuki kehidupannya masing-masing. Kami dulu yang begitu sering berkumpul, tertawa, makan bersama, sudah terpisah. Saya yang menemani mereka menemukan cinta sampai kehilangan cinta juga. Saya yang terus berdiri sendiri. Tanpa sadar ternyata rasa sepi itu semakin mencekam dan membesar setiap hari.

Sampai akhirnya datanglah dia. Yang kedatangannya bersama sang hujan. Saya masih ingat hari itu. Hari jumat, jam 10 pagi. Saya melihat senyumnya. Saya melihat sesuatu yang spesial didirinya. Dan memang benar adanya, hati yang saya kiranya sudah mati, ternyata bisa tergerak melihatnya. Perhatian yang saya pikir hanya bisa saya berikan untuk diri sendiri, mengalir secara alami untuk dia. Memikirkan bagaimana dia menjalani hari, bagaimana dia melakukan semua aktivitas, dan bagaimana kami memulai sebuah hubungan. Semuanya begitu alami, dan saya yakin dialah yang saya tunggu selama ini.

Sebuah perjalanan yang sarat emosi ketika waktu saya habiskan bersamanya. Ada begitu banyak teman dan sahabat yang bertanya,

“siapa yang bisa menaklukkan hati seorang iqko? Yang selalu sinis terhadap semua hal yang berbau cinta?”

Saya hanya bisa mengulum senyum dan menjawabnya, “hanya dia. Dia, dan dia.”

Dia yang menemaniku ketika sedih, dia yang menemaniku ketika gundah meraja. Saya pun berusaha terus mengenal dia dan berusaha menjadikannya sebagai pusat semesta. Ada begitu banyak janji yang terucap, ada begitu banyak kenangan yang telah terbuat.
Rupanya perasaan sepi tidak mau ditinggalkan begitu saja. Dia begitu marah ditinggalkan di pojok kenangan. Hampa dan tidak berlaku lagi. Sang sepi mulai bertindak, memainkan perasaan dan memainkan kenangan.

Pertanyaan itupun akhirnya menyeruak kedalam alam pikiran, “pantaskah saya dicintai sebesar itu? Pantaskah saya menjadi pusat semestanya?”

Kali ini ternyata sepi berhasil menang. Rasa rendah diri dan rasa tidak percaya kembali meraja. Ketakutan akan kehilangan dia setiap hari semakin membesar. Padahal orang bijak selalu berkata, “ketika suatu ketakutan semakin terpikirkan setiap hari, maka hal itu pasti terjadi”. Ternyata hal itu benar. Saya pun melakukan kesalahan itu. Kesalahan yang sama dimasa lalu. Tidak percaya saya pantas dicinta olehnya dan ingin sendiri lagi.

Kini satu cerita sudah berakhir. Meninggalkan sepi sebagai pemenang. Dan saya harus kehilangan dia. Tanpa dia pernah tahu, ada banyak tempat yang terekam tentangnya, ada banyak lagu yang mengingatkan tentangnya, ada banyak kenangan mengenai dirinya. Apakah saya yang salah? Untuk saat ini jawabannya tentu saja iya. Karena saya belum belajar berdewasa. Belajar melawan sepi. Melawan pikiran dalam diri sendiri. Tidak pernah menghargai dia yang begitu sayang dan percaya dengan saya.

Saya masih ingat satu baris kalimat untuknya, “saya akan belajar berdewasa untukmu. Sampai suatu saat kesalahan itu bisa saya perbaiki dan bahagia menjadi milik kita lagi”.

Tidak ada lagi kata kita. Hanya aku dan dia. Saya dan kamu. Tapi saya percaya, semuanya dimulai dari awal lagi. Saya percaya, masih ada terang yang menanti di hari esok.

Masih beranikah kita bermimpi di negeri ini?

Judul Film : SangPemimpi
Sutradara : Riri Riza
Produser : Mira Lesmana
Produksi : Miles Film dan Mizan Production
Cast : Mathias Muchus, Lukman Sardi, Rieke Dyah Pitaloka, Nugie, Landung Simatupang, Yayu Unru, Jay Wijayanto, Nazril Irham. Serta memperkenalkan Vikri Septiawan (Ikal), Rendy Ahmad (Arai), dan Azwir Fitrianto (Jimbron)


Rasanya masih terbayang di benak ketika setahun yang lalu saya menyaksikan Laskar Pelangi. Ditengah penonton yang antri nonton di hari pertama pemuataran, kami seperti segerombolan rookie yang penasaran akan satu pertanyaan, “akankah Riri Riza mampu menerjemahkan bahasa tulisan menjadi bahasa gambar?”

Jawabannya tentu saja, iya! Laskar Pelangi mungkin film Indonesia terbanyak yang saya saksikan di bioskop. Top score karena saya sampai menyaksikannya 3 kali lewat layar lebar itu. Tidak puas-puasnya saya menikmati suasana alam Belitong, perjalanan Ikal dan kesembilan anggota Laskar Pelangi, suasana haru yang ditawarkan. Semuanya begitu berkesan apalagi ketika itu saya sendiri sedang mengejar mimpi yang bisa dikatakan lumayan mustahil. Mengejar beasiswa ke Amerika.

Sekarang perjalanan Ikal sudah lumayan berubah. Sang Pemimpi merupakan buku kedua dari Tetralogi Laskar Pelangi milik Andrea Hirata. Kali ini kita akan mengikuti perjalanan Ikal dalam menikmati masa remaja, dengan segala pertanyaan-pertanyaan dan hasrat masa muda, serta keinginan untuk meraih mimpi.

“Jangan pernah takut untuk bermimpi. Seluruh dunia akan membantumu memeluk mimpi itu”


Rasanya seperti mendengarkan sebuah kutipan dari buku Sang Alkemis milik Paulo Coelho. Hayatilah impianmu, bekerja keraslah, niscaya mimpi itu akan terwujud. Rasanya saya tidak perlu menjelaskan lagi bagaimana isi dari buku Sang Pemimpi ini. Mungkin ada diantara anda yang lebih khatam duluan melewati saya dalam menyimak dan menikmati buku ini. Tidak perlulah lagi saya menjelaskan siapa itu Pak Mastar, Pak Balia, atau Zakiyah Nurmala. Semua orang sudah tahu, inilah tokoh-tokoh sentral yang membantu Ikal, Arai, dan Jimbron menghayati mimpi mereka.

Petualangan 3 sahabat ini lebih banyak mengambil setting di daerah Manggar, dimana disitulah letak SMA satu-satunya yang ada di daerah itu. Seberapa jauh? Sangat jauh, sehingga ketiga sahabat ini memutuskan untuk tinggal di rumah kontrakan. Kita juga melihat bagaimana Ayah Ikal yang harus bersepeda dan mengenakan baju safari andalan ketika mengambil rapor milik Ikal dan Arai.

Disini kita akan mengikuti pengalaman Ikal dalam menjaga kepercayaan sang ayah dalam menempuh pendidikan, emosi Arai yangselalu ingin membantu dan membahagiakan orang lain, serta Jimbron yang ingin lepas dari masa lalunya. Setiap orang berhak memiliki masa depan masing-masing.

Bagaimana taste Riri Riza dalam menggarap film ini? Apa tanggapan saya ketika selesai menyaksikannya? Speechless. Terharu. Ya, saya mengakuinya. Ada banyak adegan yang membuat saya berkaca-kaca. Kenapa? Rasanya saya melihat adegan kehidupan saya sendiri dalam film itu. Pergulatan batin yang saya rasakan ketika SMA dulu. Hal ini pun ditangkap dengan baik oleh sang sutradara hebat itu. Dia berkata,

“senikmat apapun kita menikmati ruang berAC, sesungguhnya didalam diri kita masih ada jiwa anak kampong yang tersimpan. Jiwa bebas dan pernah juga memiliki mimpi. Sehingga banyak kejadian di buku Laskar Pemimpi seakan menjadi bagian hidup kita juga dulu. Oleh karena itu kita menyukai cerita semacam ini.”


Pemandangan-pemandangan indah Belitong, suasana pelabuhan yang atraktif, serta suasana sekolah yang begitu kental dengan dunia remaja bisa dijabarkan dengan jelas. Tentu saja kita tidak bisa mengharapkan sebuah buku akan diterjemahkan mentah-mentah, bukankah image of theatre setiap orang berbeda-beda?

Mungkin disinilah letak permasalah ketika sebuah buku difilmkan. Saya dulu begitu marah dan menghina ketika Jomblo di filmkan. Tapi menyaksikan Sang Pemimpi, ada ikatan batin dengan masa lalu kemudian terkuak kembali. Bahwa saya pernah menjadi orang seperti Ikal, Arai, dan Jimbron. Pernah merasa terluka, jatuh cinta, sedih, marah disaat yang sama. Image yang ditawarka kru produksi film ini tidak mengecewakan. Adegan-adegan penting bisa terangkum dengan jelas serta emosi yang tersalurkan bisa didapatkan feelnya. Sama seperti ketika membaca bukunya.

Bagaimana dengan akting para pemain? Percayalah bahwa memang Riri Riza dan Mira Lesmana memiliki Sixth Sense dalam mempercayakan sebuah peran. Buktinya ketiga anak Belitong yang memainkan karakter Ikal, Arai, dan Jimbron versi remaja tidak kelihatan bahwa film ini adalah debut akting mereka. Semuanya terlihat professional dan mampu menghayati karakter yang telah ada. Untuk Lukman Sardi, Mathias Muchus, Rieke Diah Pitaloka, atapun Landung Simatupang rasanya tidak usah lagi kita pertanyakan kualitasnya. Mereka adalah raja dan ratu di dunia itu. Bagaimana dengan Nazriel Irham? Hahahaha. Mungkin agak geli ketika pertama kali melihatnya, tapi sekali lagi satu pesan Riri Riza,

“kami berani mengambil resiko dengan tidak memperkenalkan dia sebagai Ariel Peterpan. Karena kami ingin masyarakat menilai dan menyaksikan Ariel sebagai seorang pemain film. Bukan pemain band dengan segala kepopulerannya”

Walaupun jadinya agak susah sih, karena tiap orang sekali lagi sudah punya bayangan siapa yang cocok memainkan Arai dewasa ini.

Satu hal yang berperan penting dalam film ini juga adalah tata musiknya. Ada Aksan dan Titi Sjuman yang bertanggung jawab menghadirkan suasana Melayu kental dan juga Rhoma Irama yang bernyanyi dengan semangatnya. Great! Atmosfer emosinya menjadi begitu terasa.

Catatan terakhir yang mungkin tersisa, setelah menyaksikan film ini kita akan dipaksa kembali menemukan hubungan antara ayah dan anak, perjuangan antar sahabat, serta kerja keras dalam meraih mimpi. Karena saya percaya, semua mimpi orang bisa terwujud. Maka bebaskan, bebaskan hidupmu!

Resolusi tahun baru kamu apa?

Setidaknya itu yang ada di dalam kepala setiap orang ketika tahun baru datang menyapa. Mencoba mengevaluasi kembali apa yang telah telah terjadi selama satu tahun kebelakang dan harapan-harapan di tahun yang baru. Bagaimana dengan tahun ini?


Satu kata yang rasanya tepat untuk menggambarkan tahun ini adalah menakjubkan! Ada banyak momen-momen penting nan sacral yang telah terjalani. Ada beberapa hal yang besar yang tentu tidak akan pernah terlupakan selama tahun 2009 ini.

1. Wisuda! Kenapa ini menjadi momen penting? Yah, selain factor usia yang sudah tidak muda lagi (hahai!), memang target ini harus dicapai. Setelah wisuda di bulan 12 tahun 2008 harus terlewatkan karena suatu maneuver yang lain.

2. Kerja! Kerja yang dimaksud disini tentu saja di Asta. Harus saya akui ada banyak pelajaran, pengalaman, pendewasaan yang terjalani disini. Walaupun akhirnya jodohnya harus berakhir, tetap ada banyak hal yang telah didapatkan selama 6 bulan bekerja dengan orang-orang hebat.

3. Teman! Tahun lalu, saya masih berada di lingkaran luar di AngingMammiri. Tahun ini? Ada begitu banyak sahabat yang telah menemani disaat duka dan senang. Berbagi bahagia, senang, marah, dan itu semakin mendekatkan satu sama lain. Tahun ini mesti terlalui juga dengan teman-teman di kampus (ya, kalian, anak RUSH!), sahabat yang menemani 4 tahun berkuliah, harus menjalani kehidupan selanjutnya. Bertemu sesekali untuk bertukar kabar dan bertukar cerita. 3 orang punggung tempatku bersandar harus pergi juga meraih mimpinya masing-masing. Satu di Yogya, satu di Jakarta, dan satu di Menado. Setidaknya saya tahu kita selalu bisa saling memanggil kembali.

4. Kecelakaan! Hahaha. Mungkin ini yang paling membekas selama tahun 2009 ini. Sebuah bentuk perhatian yang diberikan oleh yang di-Atas. Bahwa saya masih diberi kesempatan. Bahwa ada rencana lain yang telah disiapkan olehnya untukku. Hasilnya? Benar juga. Ada banyak kesempatan dan hal lain yang terjadi.

5. Kerja! (lagi). Setidaknya ini sudah pasti. Tinggal menjalaninya saja di bulan depan.

Hari ini tepat 1 Muharram 1431 Hijriah. Beberapa hari lagi tahun 2010 pun sudah siap menanti. Ada begitu banyak rencana dan begitu banyak harapan yang terucap. Semoga saya bisa menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Amin.

Diam

saya diam bukan berarti tidak mendengarmu,
hanya memang kepala ini sudah terasa penuh.

saya diam bukan berarti tidak memperhatikanmu,
hanya memang segala lakumu sudah menjadi hapalan wajib.

saya diam bukan berarti tidak memikirkanmu,
hanya memang hati ini sedang lelah.

maaf,kalau diam ini ternyata menyiksamu. karena ada semburat pekat yang menghalangi. tenang saja, saya masih ada disini untuk kamu.

Harry Potter and Half Blood Prince – wiped your tears away hey muggle!

harry potter dan pangeran berdarah campuran

Sutradara :David Yates
Prodser : David Heyman, David Barron
Penulis Naskah : Steve Kloves
Novel: J. K. Rowling
Pemain : Daniel Radcliffe, Rupert Grint, Emma Watson, Michael Gambon, Jim Broadbent, Alan Rickman, Tom Felton, Helen McCrory

Saya lupa kapan terakhir kali membaca buku Harry Potter untuk edisi ini. Kalau tidak salah ingat minjam punyanya Memey. Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran. Sebuah buku yang menjadi titik klimaks menurut saya. Semua perjalanan Harry di Hogwarts akan mengalami banyak hal tidak disangka dan mengantarkan kisahnya untuk ”the final duel” antara Harry Potter dan Voldemort di buku ketujuh.

Kapan terakhir saya nonton Harry Potter? Ini pertanyaan yang tidak bisa saya jawab juga. Karena saya adalah orang yang tidak suka menyaksikan buku yang difilmkan. Apalagi untuk buku sekelas Harry Potter. Kenapa? Hey! Saya pemimpi! Saya sudah memiliki semua gambaran dari buku-buku tersebut di kepala saya. Tanpa ada orang yang harus menganggunya dengan image punya dia. Jadi saya adalah orang terakhir yang menonton film Harry Potter mulai dari edisi pertama. Itupun nontonnya di televisi!

Lantas apa yang menyebabkan saya menonton film ini di hari pertama penayangannya? Dimana semua kabar dari beberapa kota bahwa antrian Potter mencapai 1 kilometer? Ada Umbridge yang memaksa saya nonton. Daripada kena kutukan AdavraKedavra. Baiklah saya ikut!

Kalau dari sisi cerita mungkin semua orang sudah tahu bagaimana kisah Harry dalam buku keenam ini. Siapa itu sebenarnya Pangeran Berdarah Campuran, bagaimana nasib keluarga Weasley selanjutnya, siapa saja yang tersisa dari Orde Phoenix, bagaimana hubungan Harry dan Ginny, ataupun kisah keluarga Malfoy. Ehm, kecuali kau muggle tentu saja. Menurut saya? Film keenam ini hanya setengah saja menggambarkan bukunya. Ada beberapa peristiwa penting yang sudah tercover dengan baik oleh sang sutradara. Adegan ramuan cinta, kisah Harry dan Pensieve milik Dumbledore, sampai adegan mereka di danau beserta para Inferi. Yang menjadi masalah adalah para muggle yang nonton! Sudah pernah baca belum sih? Kok tidak ngerti Luna itu siapa! Puff!!!

Dari deretan cast yang membintangi, siapa yang bisa menghilangkan image Daniel Radcliffe, Emma Watson, Rupert Grint sebagai Harry, Ron, dan Hermione? Jajaran cast yang kuat bisa menggambarkan alur cerita yang dibangun sejak awal. Saya pun salut dengan Malfoy! Letupan emosi yang ditampilkannya begitu bagus, sesuai dengan image yang ingin digambarkan.

Apa yang menjadi masalah saya? Hmm, film ini seharusnya sedih. Film ini seharusnya bisa membuat dada saya membuncah. Apalagi ketika adegan Dumbledore meninggal. Tapi ramuan Liquid Love rasanya terlalu membanjiri film ini dari awal sampai akhir. Roman percintaan yang ditonjolkan lebih banyak. Harry cinta ini, Ron dengan itu, Hermione dengan ini, Ginny dengan siapa, capek! Disini saya kurang merasakan bagaimana kesedihan Harry dan Hogwarts akan perginya salah satu penyihir terhebat. Bagaimana Harry memutuskan untuk mencari Hocrux sendirian, juga bagaimana jajaran kementrian, Orde Phoenix, menerima kematian Dumbledore. Plus satu lagi yang missing adalah ”Pangeran Berdarah Campuran” yang menjadi tagline nya tidak dijabarkan dengan jelas. Mengapa sampai ada julukan ini, dan kenapa Snape berperan penting untuk buku ketujuh. Maaf, pesannya tidak sampai!

Saya juga lumayan kecewa dengan visual efek dalam film ini. Terlalu standar! Mengingat saya baru saja menonton Harry Potter seri keempat di televisi beberapa hari yang lalu, dimana Lapangan Quidditch, Danau dan Hogwarts di visualisasikan dengan begitu indahnya. Oke, tarian api milik Bellatrix dan Dumbledore memang keren, tapi selebihnya tidak ada yang istimewa dari segi visual. Apalagi mengingat dalam film ini lebih berpusat pada cerita Harry dan Dumbledore, dan adegan duel tongkat sihir jarang terjadi.

Overall, silahkan menonton film ini kalau ada sudah termasuk taraf Potterholic seperti Umbridge yang memaksa saya ikut nonton, plus silahkan membaca (atau minimal nonton) dulu seri pertama sampai kelima Harry Potter. Kalau tidak ada akan keteteran dan terengah-engah selama mengikuti film ini. Bagi yang belum membaca bukunya akan bingung dengan alur ceritanya (terbukti dengan beberapa Muggle di belakang saya yang hanya bisa mengeluh selama film berlangsung karena tidak mengeratahui esensi filmnya). Saya hanya membayangkan bagaimana perasaan orang mengantri sepanjang 1 kilometer itu yah? Karena bagi saya, film ini kurang pantas mendapat apresiasi sebesar itu. Selamat pagi semuanya!

Trailer Film Harry Potter and Half Blood Prince

Raise your concentrate with playing golf

Sounds ridiculous? Maybe yes, maybe now. There’s a lot of kind sports that can help you raise the concentrate. For example playing chess or golf. You don’t have to go anywhere. Just sit with one of your friends, and begin the brain war. Some people say this is dumb, but trust me, the chess player always great in strategic game.

Golf is one kind of sports that can help you more concentrate too. Because I can’t playing chess. So I just go the golf field, bring the clubs, grab your bag, and enjoy the sun. I have a lot of fun here, to see the grass, enjoy the laugh, and talk to a lot of friends.

Next question is, how the golf can help you more concentrate? First you must carefully with your first hit. It helps you to find the hole. The more you concentrate, the skill and the power is become one. You didn’t listen for anyone just focus to the hole.

And you must know the calculation from hole to hole. So you didn’t get tired so soon. You know when you have to boost your power, and the time you play slow.

One things that you must remember is prepare your shoes and shirt. Because you’re going to be under the sun for all day long. Always using the sun block too. It’s not funny when you can raise your concentrate with playing golf, and then you got faint because the sun heat.

I’m a philatelist, what about you?

It always fun to see someone chasing their hobbies. Because from a hobby, someone get success from it. Alicia keys is a singer, she get her dream because she usually sing at the church. It’s not an impossible someone get a success just because their hobbies.

There’s a lot of success person that we can see as a example. The question is, what is your hobby? Of course you can’t be like Alicia Keys if you didn’t like to sing. You can’t be like Bill Gates if you didn’t like the internet.

A lot of people think they are Indiana Jones. Find a lot of bullion. Hey! It’s just a movie! Nowadays where you can find a lot of free gold? Or you are a rich man and buy gold for your collection. But this is not a movie, you can start your own hobby with one single thing.

My father always told me to find my own hobby. Nowadays I start to collect the stamps. I want to be a philatelist. Because nowadays it’s hard to see someone going to the post office. I hope someday my collection is going bigger and bigger. The more oldest your stamps of course the value is getting bigger too.

Beside the stamps, you can collect a gold bullion as your collection. I know it’s not easy, but hey, little by little, the more they get bigger. Maybe someday you can buy gold bullion from your money. There’s no one now what gonna happen for tomorrow, so start your hobbies right now and someday you’ll get the success from it!

Fashion statement : have you choosing the right color?

One of the biggest problem for a man is choosing the suit for themself. This is important, because you are what you wear. For an example, you are a bank account. You must wear a shirt and a tie every day.

This is not a simple problem for a man. Sometimes we didn’t care about the color between the shirt and the tie. Or even with the pants! Using a blue shirt with the red tie, or using the brown pants with the green shirt. This is a nightmare. And how to fix the problem?

First, if you don’t have a girlfriend, than ask a help from your sister. Women always know how to get the right suit or the right tie for us. The reason is because we looking a shirt which comfortable with us. For women, not only comfortable, but a shirt must be eye catchy. Not only about the material, it’s also about the color, the style, even the details. So other people didn’t boring to stare at you. Just one problem when you go to mall with your girlfriend or your sister, they took a long time just for looking around! I know this is the hard part, but for your own sake just do it. So you can find the right color or the right style for you.

Second, go to your room and see what color from your room is the dominant. People say what the color from your room is the dominant color from your life. If you choosing white, you must be a simple man. If you have a grey color, than you are modern man. But don’t think that white is your color then you use white color from shirt, tie, even the pants! Nope. This is just the basic color! You can buy a white shirt and choosing the maroon tie with the black pants. Sometimes you must see the designers too. Because they mix a different color with their suit. There’s a broken white, a white sky, there’s a lot of combination color. With a different style too. You feel comfort with your suit and the other people is also comfort when they near you.

The last thing you must care is about the weather. Is it a spring, winter, or the rainy season. Why this is important? You can’t wear a dark suit in the spring or in the summer. That’s too weird. The color that you can use in the spring is the bright color and chose the right material. If you are spending your time with your family, you can use the cargo pants with the brown color and white t-shirt. You can use it as a dress code for the summer with all family member. In the winter or the rainy season you must use a little bit dark color such as broken maroon, dark brown, even black. You must have a coat, a scarf with the same color too. So you didn’t get a difficult when you want to use it.

So, I hope there’s no more problem with the suit or the pants that you want to wear. Wherever you go, whatever the time, you can find your own color in your own suit.

Pria Panggilan

9:49 AM , | Posted by iQko

Cukup banyak orang ternyata yang merespon status yang saya tuliskan di Facebook 2 hari yang lalu. Apa statusnya?

”masih lebih senang HTS an.”

Hahaha! Banyak yang berkomentarlah. Macam-macam pula. Ada yang ngajakin HTS juga, ada pula yang hanya sekedar tertawa. Tapi yang paling meradang adalah DIA. Yang sudah pedekate selama satu bulan terakhir. Berbagi cerita dan berbagi mimpi. Eh ujung-ujungnya saya malah ngeset status seperti itu. Maaf. Saya masih menikmati menjadi pria panggilan. Dipanggil sana sini untuk membuat orang lain bahagia.

Pria panggilan. Itulah julukan yang disodorkan kepadaku oleh tante anna. Tentu saja dalam konteks ini, saya adalah orang yang ready go. Ditelpon ayo! Kemana saja dan kapan saja. Tapi tentu saja ini hanya berlaku dalam weekend saja. Jangan harap deh kalau waktu ngantor saya mau diajak kesana kemari. Bisa dipecat saya! Haha! Dan perjalanan menembus weekend 2 hari kemarin terbayar sudah. Berbagi cerita dan berbagi tawa dengan para sahabat.

Hari I

Sabtu, 27 Juni 2009. 11. 59 AM.
Pemanggil : Nanie

Kasus : mencarikan kado dan kue ulang tahun buat Mus. Kayaknya memang sudah menjadi kebiasaan, ada yang ulang tahu harus dirayakan. Jadilah kami menembus belantara tamalanrea (halah!) di jam 12 siang untuk mencari kue dan kado tersebut. Rute kami adalah Mtos, pintu 2, Candy Cake di pengayoman, Zazil Bakery di pettarani. Rupanya yang terjauh yang menang. Kami dapat Cake dengan harga lumayan di Zazil. Jam 4 balik lagi ke kantor. Pyuh!

Sabtu, 27 Juni 2009. 18. 06 PM.
Pemanggil : Mus

Kasus : ya, saya bisa dibooking oleh siapa saja. Gak peduli cewek, cowok, tante ataupun om. Kali ini Mus mau ngajak makan. Emang sih sudah ada rencana mau diajak jalan tapi berhubung dia datang ke kantor bersama tuan-puterinya-yang-tidak-penting, saya jadi malas. Mending pulang. Tapi rencana batal. Rute berikutnya adalah makan-makan bersama anak AM. Hore! Saya menunggu di CV Dewi saja. Mau mandi dulu, sekalian melihat Sobel juga.

Sabtu, 27 Juni 2009. 19. 03
Pemanggil : Nuri

Kasus : Sebuah sms masuk di inbox saya,
”Ball, dimanako? Nonton yuk”. Sebuah titah yang tidak bisa ditolak. Saya kemudian sms balik untuk menjemputnya habis acara makan. Nonton midnight saja.

Sabtu, 27 Juni 2009. 19. 06
Pemanggil : Vita

Kasus : masih sms lagi. Tujuan? Ngajak nonton transformer juga. Cuma bukan hari sabtu. Minggu depannya saja. Saya tidak membalas. Takut membuat janji. Hehehe.

Sabtu, 27 Juni 2009. 19. 21
Pemanggil : Tanta Anna

Kasus : masih di CV Dewi. Sudah siap berangkat. Sudah makan cemilan kripik apel dan kripik nangka dari malang. Dia mnegajak nonton transformer juga. Katanya biar sama teman-teman yang lain. Belum menjawab juga. Enaknya pergi sama sapa yah?

Perjalanan kami di malam minggu diwarnai dengan tawa dan gilagilaan di Bumbu Desa. Kami sudah mutar-mutar mall panakkukang, semua tempat makan penuh! Tapi biarlah, banyak yang ”enak” dilihat juga kok di bumbu desa. Haha. Yang paling gila adalah kami saling baku tantang. Ani memberikan satu potong kue untuk akang pelayannya, saya memberikan satu potong juga untuk mbak-mbak geulisnya. Alhasil kami diperhatikan oleh semua pengunjung Bumbu Desa malam itu. plus orang-orang yang berlalu lalang di depan. Biarlah! Yang penting senang-senang!

Be Careful What You Wish For


be careful what you wish for.

sometimes God play with his own joke.

image source : gettyimages

Dido - Here With Me (Ost. Roswell)



ya, apa yang beda? kenapa saya langsung teringat dengan lagu ini? saya jujur mengatakan saya sedang menikmati kehadiran seseorang. walaupun permainan itu berulang kembali. saya tidak tahu apakah bisa memilikinya atau tidak. dan lagu inilah yang menjadi temanku selama menikmati kebersamaan dengannya. hanya dengan melihatnya.

lagu ini sendiri diambil dari album awal dido yang hunter. sejak awal, saya sudah suka dengan serial televisi roswell. yah, ceritanya tentang cinta. dibumbui dengan cerita alien. serial inilah yang menaikkan nama katherine heigl dan shiri appleby.

entahlah. bagaimana dengan perasaan ini. tapi yang jelas, saya masih berharap. tidak mungkin saya membunuh perasaan itu secara langsung kan?

Kick Andy - Off Air



Maaf, udah malas diedit. daftar yah!!!

RADIO GENERIK KICK ANDY OFF AIR
” INDAHNYA BERBAGI ”
APA KABAR MITRA WANITA // BAGI PENGGEMAR KICK ANDY METROTV / JANGAN LEWATKAN / KESEMPATAN NONTON RAME - RAME / KICK ANDY OFF AIR / DAN KETEMU LANGSUNG ANDY F. NOYA // DENGAN BINTANG TAMUNYA ANDREA HIRATA / DWI KRISMANAN / IBU RABIAH (SUSTER APUNG) / JUMAT / 11 JULI / MULAI JAM 2 SIANG / DI BARUGA / UNIVERSITAS HASSANUDIN / MAKASSAR // CARANYA / DAFTARKAN DIRI ANDA // MULAI SEKARANG / MELALUI WWW.KICKANDY.COM // LALU AMBIL UNDANGANNYA / TGL 9 & 10 JULI / OFFICE HOUR / DI KANTOR METROTV BIRO MAKASSAR / JL. HAJI BAU NO 2A / MAKASSAR // IKUTI ACARANYA / DAN DAPATKAN / FREE SOUVENIR SERTA DOOR PRIZE //

KICK ANDY OFF AIR ” INDAHNYA BERBAGI ”
DISELENGGARAKAN OLEH METROTV

ACARA INI DI DUKUNG OLEH UNIVERSITAS HASANUDDIN & RADIO SPFM CITRA WANITA MAKASSAR