Trip to Bira #2 : Liburan dan Sahabat

Ada banyak hal yang membuat trip kali ini tidak akan terlupakan. Semuanya seolah-olah bersatu padu untuk menggagalkan niat mulia kami untuk bersenang-senang. Mulai dari hujan, kecelakaan, stress karena pekerjaan, penginapan, semuanya membuat stress. Tapi disitulah tantangannya, ketika kami tidak peduli dengan itu semua serta berhasil tiba di Pantai Bira dengan sejahtera dan sentosa.

Biarkan saya memperkenalkan partner in crime saya di liburan kali ini. Mereka adalah Nanie dan Anbhar, sahabat yang telah berbagi tawa dan berbagi kegilaan dimanapun. Lalu ada Herman, sahabat yang selalu bisa diandalkan kapan pun, walaupun kadang keberadaannya susah dilacak bahkan dengan kompas sekalipun.



Sebenarnya trip ini ingin melibatkan banyak orang, tapi sekali lagi saya menegaskan sama Nanie, bahwa saya ingin bersantai. Ingin melepas penat di kepala. Bukan harus sibuk mengurusi kepentingan banyak orang dan banyak pihak. Belum lagi memastikan semuanya merasa nyaman atau tidak.

Bukannya egois, tapi keadaan yang terburu-buru membuat semuanya pasti berantakan apabila melibatkan banyak pihak. Maka biarlah saya mengajak beberapa orang dulu untuk melihat bagaimana keadaan Bira, dan kemudian merencanakan sebuah trip besar-besaran yang bisa diikuti oleh semua orang.

Tadinya sendirian pun saya bisa menjabani trip ini. Berhubung ada teman yang pernah menampungku. Masalahnya adalah, liburan sendirian? Itu pasti akan sangat membosankan. Karena walaupun saya tahu sang teman akan menemaniku di beberapa waktu, dia juga terbatas gerakannya karena punya pekerjaan. Tidak mungkinlah saya kemudian merepotinya lagi.

Saya teringat pengalaman sewaktu jalan ke Lombok kemarin. Saya pikir akan menikmati pantai Senggigi. Memang beberapa saat saya sangat menikmati debur ombak, sunset, dan kesendirian. Tapi itu semua tidak berlangsung lama. Sama seperti kau memiliki sepotong kue yang enak. Dimakan sendiri jadinya eneg karena kebanyakan, tapi ketika kau berbagi dengan orang lain, walaupun harus bertengkar atau saling berebut, semuanya terasa lebih enak.

Dan memang terbukti ada banyak kegilaan yang kami lakukan bersama. Saya yang pada awalnya hanya berniat untuk mandi-mandi di laut saja, akhirnya menemukan keasyikan snorkeling. Menambah satu alasan kenapa saya sangat menyenangi laut. Terik matahari tidak mengurangi semangat kami untuk saling teriak, saling berburu dan saling tertawa diselingi debur ombak. Melihat Herman yang berusaha pedekate dengan seorang cewek, Anbhar dan Nanie yang terus berduaan, membuat senyum terus tersungging di wajahku.



Kegilaan kami tidak berhenti disitu, tragedi ketupat-penyelamat-nyawa akhirnya terjadi sewaktu di penginapan. Kelar bersih-bersih, kami semua merasa lapar. Beruntunglah masih ada bebeberapa ketupat segede-gede gaban beserta ayam yang dibawakan oleh Kakaknya Nanie. Makanlah kami dengan ketupat itu. Apa istimewanya? Kami tidak memiliki satu pisau pun! Peralatan makan kami hanya sebuah garpu plastik sisa pop mie. Akhirnya kami dengan ala barbar menggigit ketupat tersebut sambil menertawai satu sama lain. Nikmatnya? Tiada tara!

Beberapa sesi curcol pun seringkali terjadi. Tidak mengenal waktu dan tempat. Entah ketika sedang menunggu indomie di kios Rahman, sedang berjalan menuju pelabuhan, ataupun disela-sela kami duduk dipantai. Ada banyak hal baru yang kemudian saya ketahui tentang sahabat-sahabat saya. Tema utama curcol kali ini? Apalagi kalau bukan C.I.N.T.A dengan subjek penderita adalah Herman. Hahaaha!

Entah bagaimana rasanya kalau saya melakukan trip ini sendirian. Mungkin saya juga akan bersenang-senang dengan eji. Tetapi tentu saja bersenang-senang dengan cara lain, dan tidak bisa ditukar dengan keriuhan yang terjadi bersama 3 orang itu. Liburan sendiri? Akan menjadi hal paling terakhir dalam kamus liburan saya!

3 Comments to Trip to Bira #2 : Liburan dan Sahabat

jadi ingat dengan pertanyaan yang selalu diulang2 setiap kali herman curcol hahaha

aaaa suka tulisan iniiiii luv uuuu ^^

saya juga sukaaa..
kapan2 ajak yagh ^^