filosofi jangkar dan balon gas

kemarin (selasa, 10 okt '06) di kuliah sistem komunikasi indonesia, pak mansyur memukau kami dengan penganalogiannya (walaupun saya tidak terlalu memperhatikan karena sibuk mengerjakan tugas promosi dan periklanan, maaf :D). mungkin hal ini bukan hal yang baru saya dengar, tapi karena seorang pak mansyur yang kemudian menjelaskan pada saya. akhirnya filosofi ini lebih masuk ke kepala saya, dan memaksa saya untuk lebih merenungi lagi maksud dari filosofi ini.
katanya jangkar dan balon gas itu merupakan 2 hal yang berbeda. saling bertolak belakang satu sama lain. perhatikan saja jangkar yang selalu di bawah air. walaupun orang-orang tidak terlalu memperhatikannya, dia ada. dia bekerja sesuai dengan fungsinya. tanpa perlu dia berteriak, "hey, lihat saya! saya sedang bekerja". perhatikan juga balon gas. yang akan semakin membesar ketika dia ditiup, akan semakin kelihatan kalo ada yang menyanjungnya. seolah-olah berkata, "bukankah saya juga bagus?". apakah kita seperti itu? atau apakah saya seperti itu? karena katanya, orang yang menganut filosofi jangkar akan terus bekerja dalam diam. bekerja tanpa ada tahu. tanpa ada yang dia beri tahu. dia kerja karena dia ingin. cukup. tanpa perlu ekspose ke orang lain. ataukah saya justru menganut filosofi balon gas? apapun perbuatan yang dia lakukan, selalu dia gembar-gemborkan kepada orang lain. selalu ingin dilihat. selalu ingin dipuji. jangan sampai lah.
karena memang saya merasakan juga. ada yang perlahan berubah pada diri saya. setelah kemarin saya sempat berbicara dengan ema (the last angel in rush 04), saya kemudian bisa sedikit bercermin. melihat semua hal yang saya lakukan dalam minggu-minggu terakhir ini. sikap tidak profesional, selalu ingin lari dari tanggung jawab, malas dengan urusan orang lain. ini yang menjadi raja dalam pikiranku. saya berubah. saya menyadari itu. karena keadaankah atau faktor saya sendiri? karena saya yang dulunya selalu bekerja dalam diam, tiba-tiba selalu ingin mendapatkan perhatian orang lain. semua pekerjaan yang saya lakukan, selalu ingin dipuji oleh orang. wah, sialan!!! saya mau menyalahkan siapa? karena saya juga sering bingung dengan keadaan saya yang sekarang. saya tiba pada satu titik,
"kok bisa saya yah saya seperti itu?"
saya tidak mau munafik, saya sekarang totally bad habit. kadar selfish saya sangat tinggi sekali. mau menang sendiri. bahkan ..., sudahlah, dan perasaan sendiri itu benar-benar membesar. aku takut. ketika saya tersadar, saya sudah sendirian. tanpa tahu apa yang akan aku kerjakan nantinya. jangkar dan balon gas. sekarang saya harus memompa balon gas ini sebesar mungkin. sampai dia meledak. ataukah dia akan terbang tinggi. sampai tidak ada lagi yang melihatnya. kemudian saya akan jatuh. perih, sakit, itu pasti. tapi mungkin itu lebih baik. supaya saya bisa kembali pada posisi sang jangkar. di bawah. bekerja dalam diam. karena saya ingin.

0 Comments to filosofi jangkar dan balon gas