Setahun berlalu

Saya ingin berbicara mengenai memori di bulan februari lagi. Kenapa kenangan? Karena dia hidup di masa lalu, makanya disebut kenangan. Dan karena itu pula lah, dia bisa diingat kapanpun ketika kita sedang ingin. Tidak terasa di tahun ini saya sekarang berdiri di luar garis itu. Sekarang saya hanya bisa melihat dari luar saja. Sambil mengingat apa yang terjadi di dalam. Setahun sudah saya keluar dari radio Sonata. Sebenarnya bukan masalah yang besar sih, tapi kalo itu menyangkut radio yang pertama kali saya dengar, pertama kali yang membuat saya ketagihan mendengar musik, nah itu baru menjadi masalah. Karena banyak sekali hal yang terjadi di dalam, ketika saya masih menjadi penyiar disana.
Masih ingatlah waktu jaman-jamannya smp saya masih mendengarkan dan menyaksikan In-Dangdut di televisi, setelah kemudian saya di”cuci otak” oleh kace, nonton mtv land, mtv most wanted, mtv fresh, barulah saya kemudian mencari penyaluran. penyalurannya, ya dengan mencari radio yang bisa menyalurkan kebutuhanku. Dan di radio itulah yang bisa mengerti selera laguku. Jadi ini lah salah satu momen juga kenapa saya memilih radio sebagai konsentrasi media saya (mo buat film, malas. Fotografi, ndak minat). Ketika sekolah di Stm juga saya yang kemudian ketemu dengan salah satu Sonata Lovers juga. Menk namanya. Ketika kita ketemu di skolah, semua orang ngomongin, “eh nonton anu tidak semalam?, eh liat ini tidak di tivi?”, saya tidak. Saya dengan Menk malahan ngobrol “eh sudah dengar lagunya ini belum? Ko dengar morningnya tadi reimahdani?” dan setelah itu sumpah, gak ada yang bisa nyambung kalo ngobrol dengan kita.
Waktu pertama training saya ingat skali di bulan September 2003, pulang dari jaga warnet orang rumah bilang tadi ada telpon dari sonata. Katanya disuruh tes besok. What?! Disinilah awal mulanya. Yo olooooooooo banyaknya yang tes waktu itu. Dan beruntunglah saya menjadi salah satu dari 5 orang yang terpilih selain Lisa, Esther, Pittho, Digo (Miss u So much Folk! Dimana yah kalian sekarang?). training? Deg-deg an rasanya. Setelah sebulan training dan mengerti semua peralatannya, akhirnya saya siaran! Siaran pertama tuh, Pesona Indonesia 2 Jam + Hit radio 1 jam. Wuih, canggih! Mmm.. kalo gak salah list lagu saya pas awal-awal siaran itu,
Marcell – Firasat
Agnes Monica – Bilang Saja
Coklat – Segitiga
Vertical Horizon – I’m Still Here
Kangen!!! Kangen lah rasanya dengan suasana di dalam. Sering juga sih perasaan tak percaya (walopun udah setahunan lebih siaran) “wah suara saya di dengar satu makassar loh!” dan saya sih nyante aja. Banyak sekali orang yang masuk dan keluar disana. Tapi itulah yang membuat kita dekat. Dengan sesama penyiar. Walopun jarang ketemu, tetapi ikatan nya tuh kuat banget. Apalagi “pesan-pesan” yang tertulis di Log Book absen, seru banget! Dari janjian nonton, saling cela, ada semua disitu. Selama di Sonata juga lah saya kemudian bertemu dengan K’ Dila. My Little Fairy. Dialah orang pertama yang ngomong begini ke saya,
“adek, apa yang ko sembunyikan dari saya. Bisa saja kau tutupi, tapi matamu bisa berkata lain”
Dan kemudian dia menjadi orang yang paling bisa mengerti diriku. Menjadi teman ketika saya sudah berada di batas kehancuran dulu (tidak usah lah saya menceritakan kehidupan bagaimana yang saya jalani dulu), menjadi teman jalan, dan menjadi teman siaran paling enak. Mengenai mental, semua orang memang bilang, mental kamu betul-betul diuji ketika masuk di Sonata. Apalagi ketika masa-masa jayanya, yaitu ketika saya masuk. Wuih, disinilah saya ketemu “Bapak”. Yang punya Sonata, yang tinggal disana, yang buka pintu. Dan tentu saja yang marah-marah kalo siaran kita tidak becus. Dan dia kalau marah, begh pelan tapi dalem. Perkataannya ini benar-benar tanpa ampun. Biar kamu lagi siaran juga, kalo lagi naik arisanmu pasti kena marah (walopun seringnya sih tanpa alasan yang jelas. Kalo dia lagi bad mood dan butuh pelampiasan, pasti cari-cari kesalah deh kerjanya!). emosi jiwa, pastilah. Rasanya kalo kena marah itu, kau tidak akan pernah berharap akan ada siaran mu lagi di minggu itu yang harus membuatmu bertatap muka lagi dengan Bapak. Makanya banyak anak-anak yang terkadang tidak tahan dimarahin sama bapak. Dan mereka Cuma bisa bilang, “menyerah maka’. Sampai disini ji saya bisa bertahan”. Tapi memang terbukti sih, dengan semua perkataan keras itu, dengan semua disiplin itu, kita dibentuk menjadi penyiar yang Tough, yang pintar, yang bagus dalam mix lagu. Karena kita serius. Professional dalam kerja, biar mo ada badai juga tetap harus menyiar. Karena banyangin aja, teriakan senior pas ospek tidak ada artinya dibandingkan dengan “ceramah” dari bapak. Hehehehe, maaf!
Rasanya rindu banget ngucapin kalimat ini lagi,
“dari jalur utama sudirman 86, halo sahabat sehati sebaya muda, apa kabar di pagi hari ini. Morning sound hadir setiap pagi mulai dari pukul 6 sampai pukul 9 nanti hanya di 96 Sonata Fm. Bersama saya reza mahendra, siapkan diri kamu untuk suntikan semangat dan adrenalin melalui tembang-tembang yang diharapkan bisa menambah kesegaran di pagi hari, so stay tune I’ll be right back after this one!”
Damn! But life’s go on lah. Tidak mungkin saya selama disana. Tidak mungkin saya menjadi muda selamanya. Dan ya itu langkah terbesar yang saya ambil setahun yang lalu. Keluar dari sana. Setidaknya untuk mempersiapkan diri menjadi penyiar professional, mesti menghilangkan dulu gaya anak mudanya. Toh, secara umur juga udah mulai dewasa. Sudahlah, saya akan selalu merindukan jalanan itu, tangga itu, kursi itu, (walopun saya tidak akan pernah merindukan bapak dengan Bin, si anjing yang telah puas meneriaki kami selama disana). Memori selama 2 setengah tahun akan tersimpan rapi di sudut ingatanku. Dan akan kubuka kembali ketika saya ketemu dengan anak-anak yang dulu. Kenangan, tidak terasa sudah setahun berlalu.