3 Doors Down - Be Like That




With a safe home,
and a warm bed,
on a quiet little street.
All she wants is just that something to hold on to.
That's all she needs.

(3 Doors Down - Be Like That)

Balada meja makan

Semalam, selepas makan malam bersama beberapa teman kantor ada satu hal yang menggelitik pikiranku. Obrolan sepanjang perjalanan pulang itu menjadi menarik karena membahas satu hal yang paling sensitif di rumah. Masalah meja makan.



Kenapa masalah sepele tersebut bisa menjadi sangat krusial? Bayangkan sajalah, bagaimana nasib kami, para pegawai yang masih harus tinggal di kantor selepas jam kantor selesai? Maka yang menjadi alternatif untuk makan malam adalah singgah di warung atau tempat makan terdekat. Sekedar mengganjal perut ataupun bercerita mengenai hari yang dijalani di kantor.

Problemnya adalah, bagaimana ketika dirumah juga sudah menunggu seorang istri dengan segala jamuannya? Pertanyaan retoris yang hanya dijawab oleh beberapa teman yang sudah menikah,

“Yah, sampai dirumah makan lagi. Menghargai istri yang sudah memasak.”


Persoalan sederhana yang bisa menjadi persoalan domestik. Ketika seorang perempuan harus mengeluarkan segala daya dan upaya untuk menyajikan masakan tersebut. Belum prosesi tawar menawar di pasarnya, belum ketika masak mungkin kecipratan minyak goreng, tangan teriris, dan lain sebagainya, membuat acara memasak laksana sebuah medan perang yang dimenangkan dengan sajian makanan lezat di meja makan.

Sanggupkah kita menghargainya? Ternyata teman-teman saya (yang pria) sudah bisa memahami itu. Walaupun mereka sudah makan, ya, segala pujian akan dilayangkan untuk menyenangkan sang istri. Walaupun setelah itu mereka akan menahan sakit di perut karena kekenyangan.

Dulu, saya pun melakukan hal ini. karena ibu di rumah adalah tipe ibu yang senang memasak. Takkan kau temukan kekurangan makanan kala makan siang, makan malam, ataupun sarapan. Lantas, saya yang dulunya anak kampus, sekarang sudah menjadi pegawai, pulang kerumah dalam keadaan kenyang. Melihat makanan yang masih tersedia di meja makan? Ya makan lagi! Jadi tolong jangan salahkan saya ketika mempunyai bodi segede-gede arca. Ini hanya persoalan menghargai.

Satu pendapat menarik datang dari mereka para wanita yang kebetulan bekerja. Masalah makan malam menjadi persoalan yang berbeda. Mereka beranggapan, ya sudahlah kalau memang tidak bisa makan bersama. Makan malam sendirian saja. Karena mereka sudah tidak mungkin pulang menyiapkan segala tetek bengek. Bahkan yang menjadi alternative terakhir, ya, sang suami menunggu dirumah. Menunggu bungkusan makanan yang akan dibawakan.

Apakah memang konteks meja makan ini sudah sedemikian berubah? Sepertinya iya, dan tergantung dari sudut pandang yang mana. Di rumah, makan malam menjadi sesuatu yang sakral. Dimana semua anggota keluarga kumpul dan saling bercerita. Sekarang? Rasanya fastfood dan gerai-gerai makanan menjadi teman yang akrab. Bersama teman kantor ataupun teman gaul yang lain.

Persoalan domestik yang dua-duanya berbeda. Tergantung dilihat dari sudut pandang yang sama. Tapi akhirnya semuanya akan berlanjut kepada saling menghargai. Bagaimana usaha seorang perempuan dalam menyajikan masakan dirumah. Ataupun bagaimana usaha seorang perempuan untuk bekerja dan menambah penghasilan keluarga. Toh tidak selamanya kita akan makan diluar kan? Ada waktu untuk kembali kerumah.

Road to Jakarta #3 : Surat kepada L

Tahukah kau L, sudah 15 hari semenjak pertengkaran kita berlalu. Akupun sudah meminta maaf kepadamu. Tapi sepertinya memang ini yang terbaik. Ketika saya belum bisa menjadi dewasa, dan menyelamatkan hubungan kita.


Tahukah kau L, di hari itu saya menjadi orang paling egois sedunia. Ketika perjalanan puluhan ribu kilometer yang kutempuh, tidak bisa menyisakan sedikitpun waktu untukmu. Saya, yang merasa ingin tertawa bersama teman-teman saya. Menggelandang dari satu tempat ke tempat yang lain di kotamu.

Tahukah kau L, sepertinya ada yang salah di hatiku. Entah apa, saya pun tidak bisa memberitahukannya kepadamu. Apakah memang cinta itu seperti sebuah kembang api? Hanya terlihat indah ketika terbang menanjak dan kemudian menyemburkan cahaya indahnya. Setelah itu? Hanya bangkainya yang tersisa. Terjatuh dan tersembunyi dalam pekatnya malam.

Tahukah kau L, mungkin memang hidupku yang sedang tersesat saat itu. Ketika saya dengan mudahnya melupakanmu. Melupakan hasratmu yang telah tersimpan selama beberapa bulan. Sejak pertemuan terakhir kita di bulan Agustus. Entahlah L, kenapa bisa hatiku menjadi sedingin itu. Apakah memang jarak yang menjadi pemisah yang sangat tampak?

Tahukah kau L, bahwa memang saya, pada hari itu dikuasai oleh euphoria kebebasan. Ketika saya bisa menjadi diri sendiri, diantara teman-teman saya. Tetapi juga, saya harus sedikit menjaga image. Maklum saja, ada beberapa orang yang baru saya kenal. Dan begitulah memang sistem pertahanan diri saya, berusaha menjauh dan memasang dinding penghalang di setiap tingkah dan perilaku.

Tahukah kau L, di hari itu, ada banyak keadaan yang diluar kuasaku. Niat yang tadinya untuk bersenang-senang, ternyata berubah menjadi tidak nyaman. Semua atas dasar kesetiaan kepada teman. Walaupun saya akhirnya berpikir, untuk apa saya datang ke tempat itu. Hanya untuk membuktikan diri bahwa saya ada? Saya setia?

Entahlah L, entahlah. Yang jelas disinilah posisi kita sekarang. Sejak hari itu pertengkaran demi pertengkaran kita lalui. Ada yang tidak bisa kau mengerti dalam diamku. Maafkan saya L, begitulah saya. Ketika sejuta gulana meraja. Lebih baik saya diam, menunggu keadaan membaik dan memperbaiki semuanya satu persatu.

Entahlah L, entahlah. Ketika kau bertanya apakah saya bisa berubah. Semua sistem ini tidak berlangsung dalam semalam. Sayapun terus berusaha. Untuk membuka hati, membuka diri. Tidak menjadi sebuah toples yang isininya terlihat dari luar tapi tidak bisa dipegang isinya. Pelan-pelan L, mungkin waktu akan mengajariku untuk berubah.

Disinilah kita L, 15 hari berlalu sejak 30 Oktober. Hari yang mungkin tidak akan kita lupakan. Ketika saya melupakan sosokmu yang selalu menjagaku. Menopangku ketika saya sedang jatuh. Mun gkin memang saya lupa L, pada semua kebaikanmu. Dan keegoisan sangat menguasai hatiku. Egois karena kemerdekaan hidup terenggut oleh komitmen yang bernama hubungan.

Disinilah kita L, menjadi dua individu yang terpisah lagi. Biarlah saya menjalani dulu jalanku, supaya lebih berdewasa. Biarkanlah saya mencari dulu apa yang saya inginkan. Karena mungkin hatiku yang sudah kosong dan telah terbiasa kosong. Sehingga ketika ada seseorang yang mengisinya, rasanya menjadi aneh.

Maafkan saya sekali lagi L. saya belum bisa menjadi seseorang yang baik untukmu. Baik-baik disana. Jangan menangis lagi untukku. Karena saya tidak pantas untuk itu.

Image credit to MalvaAlcea

Five For Fighting - Love Can't Change The Weather


Love comes in, Love goes out
Moves in circles, Roundabout
We've been tired;
We can't take it anymore

(Five For Fighting - Love Can't Change The Weather)