Balada meja makan

Semalam, selepas makan malam bersama beberapa teman kantor ada satu hal yang menggelitik pikiranku. Obrolan sepanjang perjalanan pulang itu menjadi menarik karena membahas satu hal yang paling sensitif di rumah. Masalah meja makan.



Kenapa masalah sepele tersebut bisa menjadi sangat krusial? Bayangkan sajalah, bagaimana nasib kami, para pegawai yang masih harus tinggal di kantor selepas jam kantor selesai? Maka yang menjadi alternatif untuk makan malam adalah singgah di warung atau tempat makan terdekat. Sekedar mengganjal perut ataupun bercerita mengenai hari yang dijalani di kantor.

Problemnya adalah, bagaimana ketika dirumah juga sudah menunggu seorang istri dengan segala jamuannya? Pertanyaan retoris yang hanya dijawab oleh beberapa teman yang sudah menikah,

“Yah, sampai dirumah makan lagi. Menghargai istri yang sudah memasak.”


Persoalan sederhana yang bisa menjadi persoalan domestik. Ketika seorang perempuan harus mengeluarkan segala daya dan upaya untuk menyajikan masakan tersebut. Belum prosesi tawar menawar di pasarnya, belum ketika masak mungkin kecipratan minyak goreng, tangan teriris, dan lain sebagainya, membuat acara memasak laksana sebuah medan perang yang dimenangkan dengan sajian makanan lezat di meja makan.

Sanggupkah kita menghargainya? Ternyata teman-teman saya (yang pria) sudah bisa memahami itu. Walaupun mereka sudah makan, ya, segala pujian akan dilayangkan untuk menyenangkan sang istri. Walaupun setelah itu mereka akan menahan sakit di perut karena kekenyangan.

Dulu, saya pun melakukan hal ini. karena ibu di rumah adalah tipe ibu yang senang memasak. Takkan kau temukan kekurangan makanan kala makan siang, makan malam, ataupun sarapan. Lantas, saya yang dulunya anak kampus, sekarang sudah menjadi pegawai, pulang kerumah dalam keadaan kenyang. Melihat makanan yang masih tersedia di meja makan? Ya makan lagi! Jadi tolong jangan salahkan saya ketika mempunyai bodi segede-gede arca. Ini hanya persoalan menghargai.

Satu pendapat menarik datang dari mereka para wanita yang kebetulan bekerja. Masalah makan malam menjadi persoalan yang berbeda. Mereka beranggapan, ya sudahlah kalau memang tidak bisa makan bersama. Makan malam sendirian saja. Karena mereka sudah tidak mungkin pulang menyiapkan segala tetek bengek. Bahkan yang menjadi alternative terakhir, ya, sang suami menunggu dirumah. Menunggu bungkusan makanan yang akan dibawakan.

Apakah memang konteks meja makan ini sudah sedemikian berubah? Sepertinya iya, dan tergantung dari sudut pandang yang mana. Di rumah, makan malam menjadi sesuatu yang sakral. Dimana semua anggota keluarga kumpul dan saling bercerita. Sekarang? Rasanya fastfood dan gerai-gerai makanan menjadi teman yang akrab. Bersama teman kantor ataupun teman gaul yang lain.

Persoalan domestik yang dua-duanya berbeda. Tergantung dilihat dari sudut pandang yang sama. Tapi akhirnya semuanya akan berlanjut kepada saling menghargai. Bagaimana usaha seorang perempuan dalam menyajikan masakan dirumah. Ataupun bagaimana usaha seorang perempuan untuk bekerja dan menambah penghasilan keluarga. Toh tidak selamanya kita akan makan diluar kan? Ada waktu untuk kembali kerumah.

1 Comment to Balada meja makan

suka ka tulisan ini iqko, sangat menyentuh, serius