The last angel on Rush

Itulah deskripsi sederhanaku tentangnya. Ditengah-tengah teman angkatan yang memiliki dosis kegilaan diatas rata-rata, dia bisa hadir dan menjadi penyejuk bagi kami semua. Dia seperti Maria Mercedez yang selalu baik hati walaupun disakiti. Bahkan dia juga diceritakan mirip Lala di serial Bidadari karena kebaikannya. Selalu tersenyum apapun yang terjadi padanya.



Namun itu dulu, cerita kami sewaktu masih memiliki rumah yang sama di kampus. Terikat oleh persaudaraan di angkatan yang sangat aneh. Sekarang episodenya sudah berubah, dia sudah berubah menjadi seseorang yang sangat teguh dengan mimpinya. Dengan semua yang dicita-citakannya. Dia yakin dan dia sedang menjalani mimpinya.

Saya berkenalan dengannya melalui proses singkat di pra ospek. Siapa yang akan melupakan rumahnya? Rumah pertama dimana kami menjadi saudara yang saling berbagi. Dimana saya tidur di tempat cucian piring dan pergi ospek tanpa mandi. Bagaimana saya bisa melupakan itu semua?

Jawabannya tidak mungkin dan tidak akan pernah. Saya masih ingat dikala dulu saya masih sering tersesat. Dia selalu bisa menjadi pendengar yang baik. Sekisruh apapun cerita yang saya berikan kepadanya, dia selalu bisa menerimanya. Selalu bisa menenangkanku. Bukan hanya di koridor kampus saja kami bercerita. Disela-sela menunggu jam kuliah, di halte depan baruga, semuanya pernah mendengar cerita kami.

Dia selalu berkata iri pada saya, karena kemampuan rotasi pertemanan saya yang begitu hebat. Tanpa pernah dia ketahui, lebih dari itu rasa kagumku padanya. Saya, yang merasa anak kota, terlanjur tenggelam dalam budaya pop, merasa tidak tahu apa-apa ketika berbicara dengannya mengenai filsafat ataupun tentang hidup. Ketika saya mengklaim sudah melakukan penelitian bersama remaja, dia lebih mahir dan paham tentang hal ini. Dia dengan semua keistimewaannya.

Ada satu yang bisa kau tandai dari dirinya. Siapa yang akan lupa pada matanya? Penuh rasa optimis yang membuncah, walaupun pernah juga kami berteman dalam kegundahan. Apakah kau masih ingat Nobody’s Home dan How Does It Feel yang selalu kita nyanyikan bersama? Karena dengan begitulah kita bisa merasakan satu sama lain.

Ada malam-malam panjang dan hari-hari yang menyejukkan ketika bersama dia. Ketika dosis kegilaanku dalam taraf akut, dia bisa melihatku apa adanya. Tanpa pernah menjudge, tanpa pernah menilai. Karena dia sudah tahu bagaimana dalam-dalamnya saya. Dia menjadikan dan terus mengingatkan ku bahwa saya masih manusiawi, karena dia masih mau dekat denganku. Bahkan ketika percaya kepada diri sendiri pun tidak mampu kulakukan.



Disinilah kami, masing-masing berpisah jalan. Mencoba meretas dan mencoba mewujudkan mimpi kami. Masih ingatkah kau pada mimpi bodoh kita berdua? Bahwa kau akan menjadi reporter handal salah satu majalah musik dan saya akan menjadi penyiar di radio ibukota. Dengan begitu kita akan selalu bisa bersama, berbagi cerita dan berbagi kegilaan.

Ada banyak rahasia yang tersimpan padanya. Bukan hanya dari saya saja, tapi ada banyak orang lain yang mempercayakan hidupnya. Pada setangkup keteduhan wajah, yang sanggup menghilangkan semua gundah walaupun sesaat. Saya sendiri? Entah sudah berapa banyak rahasiaku dipegangnya, bahkan untuk kartu rahasia terakhir pun dia sudah lama tahu. Karena saya tahu, saya bisa mempercayainya segenap jiwa dan raga.

Beberapa jam lagi dia akan bertambah usia. Semua doaku teriring untuknya. Dikala semua orang bahkan ragu kepada mimpinya, dia tahu apa yang harus dilakukan dan bagaimana untuk mendapatkan mimpi itu. Selamat ulang tahun, Erma Musriyanti. Terima kasih untuk semua sandaran yang telah kau berikan kepadaku. Terima kasih untuk semua telinga yang kau berikan untuk semua cerita bodohku. Dan terima kasih untuk semua keyakinanmu bahwa tiap orang bisa mendapatkan mimpinya masing-masing suatu saat nanti. Karena Tuhan tidak pernah berbohong, dan kaulah malaikat terakhir di angkatan kita.

Warm hugs,
iQko

nb : kalau kau sabar menanti sampai awal bulan, saya akan mengizinkanmu memesan pizza apa saja kesenanganmu :D

0 Comments to The last angel on Rush