Kotaku dan Rihanna



Besok tepat tanggal 31 agustus. Kenapa? Besok adalah hari terakhir di bulan perjuangan. Itu kata orang. Itu kata media. Merah putih di mana-mana. Bahkan sampai ada warnet yang memutarkan lagu-lagu perjuangan sebagai backsound selama bulan agustus ini. Niat banget yah!
Sebagai music addict yang sudah termasuk dalam kategori parah, sikap apatis saya sudah berkembang ke segala lini kehidupan. Kecuali perkembangan track-track lagu dashsyat yang dirilis setiap hari tentu saja. Apatis, kenapa? Karena saya selalu berpikir emang ngaruh kalo saya ikut berpikir? Emang ada yang berubah ketika saya ikut peduli? Selama ini yang menjadi jawaban atas semua pertanyaan itu adalah TIDAK! Tidak akan ada yang berubah. Jadinya pusat dunia saya sedari dulu adalah track-track lagu yang membius yang masuk ke dalam kepalaku dan membuatku berhalusinasi plus mengalami degradasi kenyataan yang terkadang tidak bisa dibedakan dengan drama yang berjalan di dalam kepala.
Saya yang lebih menghapal review lagu Avril lavigne dari album pertama sampai album girfriend yang so-bitchy, saya yang mengetahui fakta bahwa ketika umbrella milik rihanna dirilis, saya adalah orang yang tergila-gila padanya. Saya yang lebih mengetahui track umbrella dirilis dan diremix oleh 11 orang yang tidak bertanggung jawab, mulai dari mandy moore, marie digbie, vanilla sky, swivel, eminem, dan masih banyak lagi. Saya yang dengan lugas berteriak dan menulis mengenai album minutes to midnight-nya linkin park dan cerita mereka tentang global warming. Saya mengetahui semuanya. Sedangkan sejarah?
Terus terang saya adalah orang yang paling tidak senang dengan pelajaran sejarah. Mulai dari jamannya pelajaran PSPB (hahahaha, bahkan saya sudah lupa kepanjangannya!) sampai pelajaran sejarah di SMA. Semuanya menimbulkan trauma tersendiri. Bagaimana kita harus menghapal tahun, tanggal, tempat, nama, dan masih banyak peristiwa penting lainnya. Mungkin bukan sejarahnya yang harus dipermasalahkan, tetapi bagaimana sejarah itu disajikan. Muak! Itulah perasaan yang saya dapatkan ketika harus membaca banyak sekali buku teks dan menghapal nama-nama pahlawan (halah!, bilang aja kalo gak mampu), ditambah lagi guru yang tidak mampu menjabarkan dengan gamblang dan nyaman mengenai peristiwa di negeri kita sendiri.
”baca saja di buku terbitan ini, bla bla bla...”
So last year honey! Coba saja ketika pelajaran sejarah dibuat semenarik mungkin dengan film dokumenter ataupun dengan cara-cara yang lebih bisa menarik perhatian. Dijamin, kita sendiri akan concern dan mau tahu apa sih yang terjadi pada bangsa kita pada waktu yang lalu.
Saya menjadi miris sendiri, ketika melihat keadaan dari museum kota makassar. Bukannya sekedar membandingkan dengan museum yang ada di film national treasure. Gak mungkin lah. Cuman kok rasanya mengenaskan banget yah? Melihat peninggalan catatan kota kita dalam keadaan yang tidak terawat. Bahkan ada ruangan yang sebagian koleksinya harus dipindahkan karena atapnya bocor! Ataukah memang itu yang menjadi gambaran perjalanan kota kita? Banyak tempat-tempat bersejarah yang hilang dan kita tidak pernah mengetahui lagi bagaimana rupa aslinya.

Sedikit ironis memang, ketika mendengar slogan salah satu kandidat walikota disebut oleh bapak pemandu di museum kota. Sebegitu berharapkah pada janji-janji yang mungkin tidak akan ditepati? Padahal balaikota yang baru dibangun menghabiskan banyak sekali dana untuk dipugar dan dengan alasan untuk memudahkan pelayanan. Mestinya bisa sebanding dengan beberapa rupiah yang dikeluarkan, minimal untuk memugar tempat ini. Hmm, bukankah museum juga berguna agar kita mengetahui bagaimana asal usul kita?
Selama ini saya mengetahui benteng somba opu hanya sebagai tempat bermain saja. Ya, tempat bermain yang besar. Mengingat masa kecil ketika menyusuri tanggul, mencari ikan, sampai berenang di pinggir sungai jeneberang di dekat jembatan. Itu hanyalah sekeping memori tentang benteng itu. Tahu apa saya bahwa ternyata tempat itu adalah pusat kota makassar dulunya? Tahu apa saya bahwa benteng somba opu jatuh ketika peta rahasia kemudian dibocorkan dan belanda mengetahui isi benteng somba opu? Tidak ada. Saya mengenal somba opu sebagai tempat bermain saya dengan teman-teman masa kecil. Ketika jiwa petualang kami lebih besar, kami akan menyusuri setiap jalan di benteng somba opu, naik perahu menyeberang ke gontang, sampai tersesat di tanjung merdeka. Itulah perasaan kami dulu ketika menyusuri setiap bagian dari benteng somba opu. Sekarang? Sepi. Hanya ketika 17 agustusan saja tempat ini ramai seminggu. Ramai dengan stand-stand pameran. Ramai dengan pengunjung, dan ramai dengan sampah. Apakah ada yang tahu, bagaimana cerita benteng somba opu itu?
Apakah perkataan saya sudah terdengar begitu sinis? Saya tentu saja tidak akan membuat pembelaan mengenai tempat-tempat yang kami kunjungi pada blogger peduli sejarah kemarin. Saya tidak akan membuat pembelaan bahwa saya pun kurang mengetahui sejarah kota saya sendiri. Miris memang, ketika sesuatu yang sudah lalu akan dilupakan begitu saja, dan besok tidak akan ada yang mengetahui bentuk kota makassar zaman dahulu.
Semoga rasa nasionalisme dan rasa percaya bahwa kita sadar dan mau melihat budaya kita dahulu tidak akan berakhir di penghujung bulan agustus ini. Bukan hanya euforia sesaat saja. Meneriakkan sejarah, mengibarkan bendera. Tetapi yang lebih penting bagaimana kita menjaga dan mengenang perkembangan kota makassar kita tercinta, agar kelak kita bisa meneruskan kepada anak cucu kita bagaimana hebatnya benteng somba opu. Betapa besarnya karebosi dahulu. Betapa mengerikannya menyeberang di jembatan kayu ke benteng soma opu dulu. Betapa banyak cerita mistis di benteng rotterdam. Dan betapa enak batagor dan es kelapa yang ada di samping benteng rotterdam.
Toh, dikemudian hari saya juga tidak akan bercerita mengenai rihanna, mengenai avril lavigne, dan mengenai linkinpark kepada generasi berikutnya, tetapi cerita mengenai kota makassar kita yang tercinta.

--------
Soundtrack for this memory,,

Love can fade, can break away,
can be forgotten, but not replaced
You might lose hope, you might lose faith
but don't throw it all away, cause your afraid

Jamestown Story – Forgotten

Spesial untuk bangsaku, dan lebih special lagi untuk kotaku. You are not forgotten. Believe me.

0 Comments to Kotaku dan Rihanna