Showing posts with label Muviee Review. Show all posts
Showing posts with label Muviee Review. Show all posts

Madame X, speechless!!

Saya selalu hidup dalam impian dan kekuatan dunia X-men. Bisa mengendalikan cuaca seperti Storm, memiliki kekuatan seperti Wolverine, ataukah mampu mengendalikan pikiran seperti professor X. Ketika serial Heroes menjajah televisi, sayapun larut dalam petualan Hiro Tanaka dan Peter Petrelli.



Apa yang akan kau lakukan ketika film ini dikonversi dalam bentuk film Indonesia? Apalagi dengan Aming sebagai karakter utamanya? Saya menyarankan anda berpikir beberapa kali sebelum menonton film ini. Karena ada beberapa poin plus yang mungkin tidak bisa diterima oleh sebagian orang.

Plus pertama. Semua istialah yang mungkin akan kita temukan di idiom porno akan disebut dan digambarkan disini. Kinky, fetish, masokis, hanyalah beberapa istilah yang dengan gampang dikenali melalui beberapa adegan. Belum lagi beberapa alat-alat yang hanya terlihat ketika kita masuk dan login di sebuah situs sex toys.

Plus kedua. Inilah realitas yang terjadi di sekitar kita. Bahwa dunia para waria ada dan menjadi bagian dari struktur masyarakat. Sebuah cuplikan adegan yang cukup menohok dilontarkan Aming,

“yah gini deh nasib jadi Waria. Kalau gak kerja di salon ya melacur”.


Stigma ini yang telah merekat di pikiran masyarakat. Seakan mereka menjadi terpinggirkan dan disitulah kasta yang pantas bagi mereka.

Plus ketiga. Beruntunglah untuk anda yang pernah membaca kamus gaul yang diterbitkan oleh Debby Sahertian. Begitu banyak bahasa gaul yang akhirnya menjadi bahasa gaul diantara para waria dan para binan. Menjadi sebuah pembahasan yang menarik ketika bagaimana bahasa yang awalnya hanya digunakan oleh mereka sekarang kita sudah bisa mendengarnya di pelataran mall, coffe shop dan bahkan kampus. Bentuk generalisasi bahasa kah?

Plus keempat. Akting Aming sebagai banci tampil tidak perlu diragukan lagi. Itulah bagian terbaik dari Extravagansa beberapa tahun yang lalu. Aktingnya sebagai Adam yang memiliki kekuatan super dengan segala ekstra kelebayannya sudah menjadi jaminan anda akan tertawa. Bersama Sarah Sechan, Titi Dj, Shanty, membuat film durasi 2 jam ini penuh dengan kekonyolan. Belum lagi akting Ria Irawan, Robby Tumewu dan Vincent menjamin anda akan tertawa. Lupakan menonton film ini mengharapkan adegan bagus, karena itu tidak akan terjadi. Satu poin plus adalah Joko Anwar! He is so hilarious dengan sosok yang dimainkannya. Berperan sebagai siapa? Silahkan anda tonton sendiri film ini.

Plus kelima. Inilah film yang paling banyak menampilkan realitas sosial yang paling banyak. Semuanya ditampilkan dalam bentuk satir dan membuat miris. Ikut tertawa didalam setiap adegannya, dan kemudian merasa tidak enak hati sendiri karena mungkin kita adalah salah satu dalam pelaku diskriminasi itu. Ketika tidak sengaja stereotype membuat kita melekatkan berbagai hal kepada orang lain.

Sekarang tergantung anda untuk menyaksikan film ini atau tidak. Cuma satu hal yang dipastikan, anda harus mempunyai jiwa yang sehat wal afiat sebelum menontonnya. Karena sekali lagi, beberapa humor yang terkandung didalamnya bukan untuk semua orang.

Legends of The Guardian, sebuah cerita tentang mimpi dan persahabatan.


Ditengah kejenuhan melihat film Indonesia sejak lebaran kemarin, ada satu kelegaan ketika melihat film Legend of the Guardians: The Owls of Ga’Hoole masuk dan tayang di bioskop. Bukannya tidak menghargai film negeri sendiri, tapi Pocong Jumat Kliwon? Dilihat Boleh Dipegang Jangan? Maaf, dari judulnya pun mungkin ini adalah deretan film terakhir yang akan saya tonton.

Film ini sendiri berkisah mengenai petualangan Soren, sang burung hantu yang mempercayai semua cerita tentang The Guardians. Sosok dalam mitologi yang dipercaya telah berperan melawan kejahatan dan melindungi dunia burung hantu dari kegelapan. Setiap malam Soren dan saudaranya disuguhi cerita ini oleh sang ayah. Bagaimana kalau ternyata legenda para Penjaga itu ternyata benar?

Petualangan dimulai ketika Soren dan sang kakak terjatuh dalam atraksi mereka belajar terbang. Mereka yang pertamanya akan menjadi santapan para pemangsa kemudian diselamatkan oleh beberapa burung hantu. Kemana mereka akan dibawa? Bersama jenis-jenis burung hantu yang lain, ternyata mereka dijadikan budak oleh Pure Ones. Rencananya adalah untuk kembali menguasai dunia burung hantu!

Maka dimulailah perjalanan Soren untuk mencari sang Penjaga. Ditemani oleh sahabat-sahabat baru dalam petualangannya, belajar kembali mengenali dan mempercayai mimpi serta harapan. Akankah Soren bertemu dengan sang Penjaga dan menyelamatkan dunia burung hantu?

Tentu saja saya tidak akan menjadi Spoiler. Silahkan nikmati petualangan Soren dan sahabat-sahabatnya dalam mengarungi lautan. Tampaknya Pixar pun harus berhati-hati. Karena dari segi detail dan pencitraan, animasi yang digarap oleh Warner Bros begitu sempurna. Detail khas Soren ketika bermain dalam gulungan ombak begitu jelas terasa. Karakternya begitu hidup.

Di tengah perjalanan mungkin anda akan sedikit penasaran dan bertanya-tanya. Apakah memang film ini cocok untuk anak-anak? Mengingat ada beberapa kekejaman yang tergambarkan dengan jelas. Tapi inilah alasan dari, Zack Snyder, sang sutradara. Masih ingat dengan adegan kolosal pada film 300? Itulah alasannya. Dia begitu total dalam menggarap setiap adegan dan cerita. Semuanya terasa nyata.

Inilah yang poin penting yang ingin disampaikan menurutku. Seringkali kita terkesima menyimak film-film yang bercerita tentang penggapaian mimpi. Hanya bertabur kisah manis. Tapi disini pesan itu dibuat senyata mungkin. Bahwa terkadang ada hal-hal yang dikorbankan. Get some lose some. Itu yang harus ditebus. Apakah setimpal atau tidak? Tergantung bagaimana kita mengisi dan melanjutkan mimpi itu nantinya.

Dari jejeran soundtrack yang ada, semuanya hanya berupa scoring saja. Tapi ketika Owl City menyanyikan To The Sky, semuanya terasa cocok! Klop! Adam young memang jenius! Iringan lagu yang ceria membuat kita terus bersenandung dan menikmati petulangan dari Soren. Walaupun dalam Trailer resmi film ini ada 30 Second To Mars yang hadir lewat Kings and Queen. Mewakili sisi gelap dan peperangan yang terjadi selama Legends of The Guardian ini berlangsung.



Satu hal yang menambah poin plus adalah efek 3D! yeah! Beruntunglah di Makassar teknologi ini sudah ada. Walaupun saya tidak mengetahui bagaimana kualitas studio 3D yang ada di Jakarta atau kota lainnya, tapi saya puas! Detail 3D ketika Soren mencari pinggiran gelombak membuat ombak itu seakan berada didalam bioskop. Siip! Tidak rugi mengeluarkan 30 ribu untuk menikmati film sebagus ini.

Pada akhirnya film ini akan mengantarkan kita lagi bagaimana sebuah mimpi bisa menjadi kenyataan. Mau jadi apa lagi kita ketika sudah tidak memiliki mimpi? Hidup dalam dunia yang sudah tertebak? Tetaplah bermimpi! Karena bisa saja suatu saat Soren akan datang dan menemanimu dalam mengarungi mimpi mimpi itu!

Legend of the Guardians: The Owls of Ga’Hoole (2010)
Directed by Zack Snyder Produced by Zareh Nalbandian Written by John Orloff, John Collee Starring Jim Sturgess, Geoffrey Rush, Emily Barclay, Anthony LaPaglia, David Wenham, Ryan Kwanten, Helen Mirren, Sam Neill, Hugo Weaving, Joel Edgerton, Adrienne deFaria, Miriam Margolyes, Richard Roxburgh, Leigh Whannell Music by David Hirschfelder Editing by David Burrows Studio Village Roadshow Pictures/Animal Logic Distributed by Warner Bros. Running time 90 minutes Country Australia, United States Language English

My Sister’s Keeper, (semestinya) sebuah pelajaran tentang cinta dan kehidupan.

Siapakah yang akan kau pilih ketika berada dalam poisisi seorang orang tua, anak yang sakit atau anak yang sehat dan dipaksa sakit hanya untuk menyelamatkan nyawa sang kakak. Caranya? Dengan menyumbangkan dan memberikan organ tubuh untuk tetap menjaga kelangsungan kehidupan sang kakak dengan melakukan operasi demi operasi.



Film ini merupakan sebuah saduran dari buku Jodie Picoult dengan judul yang sama. Bagaimana jalan ceritanya? Silahkan simak di postingan yang ini. Kali ini melalui tangan Nick Cassavettes, luapan emosi Anna Fitzgerald dalam menuntut keluarganya sendiri akan kita rasakan selama perjalanan film ini. Tapi sayang seribu sayang, saya mesti mengatakan bahwa film ini GAGAL!!!

Kenapa? Bukan permasalahan interpretasi, saya tahu bahwa film dan buku adalah dua media yang berbeda. Kita tidak boleh membawa imajinasi kita ketika menyaksikan sebuah buku yang difilmkan. Tapi bagaimana kalau ternyata jalan ceritanya terpelintir sedemikian jauh?

Sepertinya inilah yang menimpa film My Sister’s Keeper. Saya langsung merasakan déjà vu dengan film Cat Woman yang dibintangi Halle Berry. Dimana Cat Woman jauh dari gambaran orang-orang. Dan akibatnya apa? Film tersebut dicerca dimana-mana. Beginilah nasib My Sister’s Keeper. Saya sendiri heran, kok film ini bisa-bisanya tidak booming? Mengingat novelnya sangat menguras perasaan dan penuh dengan ending yang tidak tertebak. Sedangkan di filmnya? Holy Shit!!! Bagaimana bisa mereka melakukan hal itu?

Entah saya mesti menyalahkan siapa, apakah Nick Cassavetes selaku sutradara, Jeremy Leven sebagai penulis scenario, ataukah sang empunya buku, Jodie Picoult sendiri? Ada BANYAK poin yang sangat hilang dalam film ini. Peran-peran kecil namun sangat berpengaruh pada jalan cerita dan emosi yang tertuang.

Okelah, mungkin saya telah mengenal cerita ini pertama kali dari bukunya. Saya pun telah menyebutkan dalam postingan yang ini, bahwa kita harus memilih satu saja, antara menonton filmnya saja, atau membaca bukunya saja. Tapi kenapa saya tidak kecewa pada interpretasi yang dilakukan oleh sutradara film Twilight atau film yang disadur dari buku lainnya?

*emosi mode ON

Dari sisi sinematografi, ada banyak gambar cantik yang disuguhkan. Bagaimana alur yang bisa saja menceritakan saat sekarang, mundur ke belakang semuanya bisa dihadirkan dalam takaran yang pas. Tidak terburu-buru. Cara bercerita yang diambil dari sudut pandang masing-masing tokoh pun bisa terekam dengan jelas. Bagaimana sudut pandang mengenai sesuatu bisa saja berbeda ketika dilihat oleh orang yang berbeda.

Akting para bintangnya pun sangat mengagumkan. Cameron Diaz bermain sangat apik. Memainkan emosi seorang ibu yang berusaha melakukan apa saja untuk menyelamatkan anaknya yang terserang leukemia. Salah satu bintang lainnya yang patut diperhatikan adalah Abigail Breslin. Inilah anak yang diramalkan menjadi the next Dakota Fanning. Dengan kemampuan akting yang sangat bagus.



Cuma sayangnya, peran Anna Fitzgerald (tokoh yang diperankannya) sangat minim. Bahkan semua cerita seolah-olah dititik beratkan kepada Kate Fitzgerald. Tapi sebenarnya bukan itu inti ceritanya. Ada banyak hubungan emosional lain yang sepertinya tidak bisa dieksplor dan dieksekusi yang baik. Hubungan antara Jesse Fitzgerald selaku anak pertama dengan kedua orang tuanya, hubungan antara Anna setelah menuntut kedua orangtuanya sendiri, sampai hubungan ajaib antara Anna dan Kate. Semua ini lolos dari ramuan sang sutradara.

Pada akhirnya saya harus mengatakan bahwa saya sangat kecewa dengan film ini. Berbanding terbalik dengan novelnya. Sepertinya memang menghabiskan waktu dengan imajinasi sendiri lebih bagus ketimbang melihat hasil karya orang lain dan hasilnya sangat berbeda.

Masih beranikah kita bermimpi di negeri ini?

Judul Film : SangPemimpi
Sutradara : Riri Riza
Produser : Mira Lesmana
Produksi : Miles Film dan Mizan Production
Cast : Mathias Muchus, Lukman Sardi, Rieke Dyah Pitaloka, Nugie, Landung Simatupang, Yayu Unru, Jay Wijayanto, Nazril Irham. Serta memperkenalkan Vikri Septiawan (Ikal), Rendy Ahmad (Arai), dan Azwir Fitrianto (Jimbron)


Rasanya masih terbayang di benak ketika setahun yang lalu saya menyaksikan Laskar Pelangi. Ditengah penonton yang antri nonton di hari pertama pemuataran, kami seperti segerombolan rookie yang penasaran akan satu pertanyaan, “akankah Riri Riza mampu menerjemahkan bahasa tulisan menjadi bahasa gambar?”

Jawabannya tentu saja, iya! Laskar Pelangi mungkin film Indonesia terbanyak yang saya saksikan di bioskop. Top score karena saya sampai menyaksikannya 3 kali lewat layar lebar itu. Tidak puas-puasnya saya menikmati suasana alam Belitong, perjalanan Ikal dan kesembilan anggota Laskar Pelangi, suasana haru yang ditawarkan. Semuanya begitu berkesan apalagi ketika itu saya sendiri sedang mengejar mimpi yang bisa dikatakan lumayan mustahil. Mengejar beasiswa ke Amerika.

Sekarang perjalanan Ikal sudah lumayan berubah. Sang Pemimpi merupakan buku kedua dari Tetralogi Laskar Pelangi milik Andrea Hirata. Kali ini kita akan mengikuti perjalanan Ikal dalam menikmati masa remaja, dengan segala pertanyaan-pertanyaan dan hasrat masa muda, serta keinginan untuk meraih mimpi.

“Jangan pernah takut untuk bermimpi. Seluruh dunia akan membantumu memeluk mimpi itu”


Rasanya seperti mendengarkan sebuah kutipan dari buku Sang Alkemis milik Paulo Coelho. Hayatilah impianmu, bekerja keraslah, niscaya mimpi itu akan terwujud. Rasanya saya tidak perlu menjelaskan lagi bagaimana isi dari buku Sang Pemimpi ini. Mungkin ada diantara anda yang lebih khatam duluan melewati saya dalam menyimak dan menikmati buku ini. Tidak perlulah lagi saya menjelaskan siapa itu Pak Mastar, Pak Balia, atau Zakiyah Nurmala. Semua orang sudah tahu, inilah tokoh-tokoh sentral yang membantu Ikal, Arai, dan Jimbron menghayati mimpi mereka.

Petualangan 3 sahabat ini lebih banyak mengambil setting di daerah Manggar, dimana disitulah letak SMA satu-satunya yang ada di daerah itu. Seberapa jauh? Sangat jauh, sehingga ketiga sahabat ini memutuskan untuk tinggal di rumah kontrakan. Kita juga melihat bagaimana Ayah Ikal yang harus bersepeda dan mengenakan baju safari andalan ketika mengambil rapor milik Ikal dan Arai.

Disini kita akan mengikuti pengalaman Ikal dalam menjaga kepercayaan sang ayah dalam menempuh pendidikan, emosi Arai yangselalu ingin membantu dan membahagiakan orang lain, serta Jimbron yang ingin lepas dari masa lalunya. Setiap orang berhak memiliki masa depan masing-masing.

Bagaimana taste Riri Riza dalam menggarap film ini? Apa tanggapan saya ketika selesai menyaksikannya? Speechless. Terharu. Ya, saya mengakuinya. Ada banyak adegan yang membuat saya berkaca-kaca. Kenapa? Rasanya saya melihat adegan kehidupan saya sendiri dalam film itu. Pergulatan batin yang saya rasakan ketika SMA dulu. Hal ini pun ditangkap dengan baik oleh sang sutradara hebat itu. Dia berkata,

“senikmat apapun kita menikmati ruang berAC, sesungguhnya didalam diri kita masih ada jiwa anak kampong yang tersimpan. Jiwa bebas dan pernah juga memiliki mimpi. Sehingga banyak kejadian di buku Laskar Pemimpi seakan menjadi bagian hidup kita juga dulu. Oleh karena itu kita menyukai cerita semacam ini.”


Pemandangan-pemandangan indah Belitong, suasana pelabuhan yang atraktif, serta suasana sekolah yang begitu kental dengan dunia remaja bisa dijabarkan dengan jelas. Tentu saja kita tidak bisa mengharapkan sebuah buku akan diterjemahkan mentah-mentah, bukankah image of theatre setiap orang berbeda-beda?

Mungkin disinilah letak permasalah ketika sebuah buku difilmkan. Saya dulu begitu marah dan menghina ketika Jomblo di filmkan. Tapi menyaksikan Sang Pemimpi, ada ikatan batin dengan masa lalu kemudian terkuak kembali. Bahwa saya pernah menjadi orang seperti Ikal, Arai, dan Jimbron. Pernah merasa terluka, jatuh cinta, sedih, marah disaat yang sama. Image yang ditawarka kru produksi film ini tidak mengecewakan. Adegan-adegan penting bisa terangkum dengan jelas serta emosi yang tersalurkan bisa didapatkan feelnya. Sama seperti ketika membaca bukunya.

Bagaimana dengan akting para pemain? Percayalah bahwa memang Riri Riza dan Mira Lesmana memiliki Sixth Sense dalam mempercayakan sebuah peran. Buktinya ketiga anak Belitong yang memainkan karakter Ikal, Arai, dan Jimbron versi remaja tidak kelihatan bahwa film ini adalah debut akting mereka. Semuanya terlihat professional dan mampu menghayati karakter yang telah ada. Untuk Lukman Sardi, Mathias Muchus, Rieke Diah Pitaloka, atapun Landung Simatupang rasanya tidak usah lagi kita pertanyakan kualitasnya. Mereka adalah raja dan ratu di dunia itu. Bagaimana dengan Nazriel Irham? Hahahaha. Mungkin agak geli ketika pertama kali melihatnya, tapi sekali lagi satu pesan Riri Riza,

“kami berani mengambil resiko dengan tidak memperkenalkan dia sebagai Ariel Peterpan. Karena kami ingin masyarakat menilai dan menyaksikan Ariel sebagai seorang pemain film. Bukan pemain band dengan segala kepopulerannya”

Walaupun jadinya agak susah sih, karena tiap orang sekali lagi sudah punya bayangan siapa yang cocok memainkan Arai dewasa ini.

Satu hal yang berperan penting dalam film ini juga adalah tata musiknya. Ada Aksan dan Titi Sjuman yang bertanggung jawab menghadirkan suasana Melayu kental dan juga Rhoma Irama yang bernyanyi dengan semangatnya. Great! Atmosfer emosinya menjadi begitu terasa.

Catatan terakhir yang mungkin tersisa, setelah menyaksikan film ini kita akan dipaksa kembali menemukan hubungan antara ayah dan anak, perjuangan antar sahabat, serta kerja keras dalam meraih mimpi. Karena saya percaya, semua mimpi orang bisa terwujud. Maka bebaskan, bebaskan hidupmu!

Harry Potter and Half Blood Prince – wiped your tears away hey muggle!

harry potter dan pangeran berdarah campuran

Sutradara :David Yates
Prodser : David Heyman, David Barron
Penulis Naskah : Steve Kloves
Novel: J. K. Rowling
Pemain : Daniel Radcliffe, Rupert Grint, Emma Watson, Michael Gambon, Jim Broadbent, Alan Rickman, Tom Felton, Helen McCrory

Saya lupa kapan terakhir kali membaca buku Harry Potter untuk edisi ini. Kalau tidak salah ingat minjam punyanya Memey. Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran. Sebuah buku yang menjadi titik klimaks menurut saya. Semua perjalanan Harry di Hogwarts akan mengalami banyak hal tidak disangka dan mengantarkan kisahnya untuk ”the final duel” antara Harry Potter dan Voldemort di buku ketujuh.

Kapan terakhir saya nonton Harry Potter? Ini pertanyaan yang tidak bisa saya jawab juga. Karena saya adalah orang yang tidak suka menyaksikan buku yang difilmkan. Apalagi untuk buku sekelas Harry Potter. Kenapa? Hey! Saya pemimpi! Saya sudah memiliki semua gambaran dari buku-buku tersebut di kepala saya. Tanpa ada orang yang harus menganggunya dengan image punya dia. Jadi saya adalah orang terakhir yang menonton film Harry Potter mulai dari edisi pertama. Itupun nontonnya di televisi!

Lantas apa yang menyebabkan saya menonton film ini di hari pertama penayangannya? Dimana semua kabar dari beberapa kota bahwa antrian Potter mencapai 1 kilometer? Ada Umbridge yang memaksa saya nonton. Daripada kena kutukan AdavraKedavra. Baiklah saya ikut!

Kalau dari sisi cerita mungkin semua orang sudah tahu bagaimana kisah Harry dalam buku keenam ini. Siapa itu sebenarnya Pangeran Berdarah Campuran, bagaimana nasib keluarga Weasley selanjutnya, siapa saja yang tersisa dari Orde Phoenix, bagaimana hubungan Harry dan Ginny, ataupun kisah keluarga Malfoy. Ehm, kecuali kau muggle tentu saja. Menurut saya? Film keenam ini hanya setengah saja menggambarkan bukunya. Ada beberapa peristiwa penting yang sudah tercover dengan baik oleh sang sutradara. Adegan ramuan cinta, kisah Harry dan Pensieve milik Dumbledore, sampai adegan mereka di danau beserta para Inferi. Yang menjadi masalah adalah para muggle yang nonton! Sudah pernah baca belum sih? Kok tidak ngerti Luna itu siapa! Puff!!!

Dari deretan cast yang membintangi, siapa yang bisa menghilangkan image Daniel Radcliffe, Emma Watson, Rupert Grint sebagai Harry, Ron, dan Hermione? Jajaran cast yang kuat bisa menggambarkan alur cerita yang dibangun sejak awal. Saya pun salut dengan Malfoy! Letupan emosi yang ditampilkannya begitu bagus, sesuai dengan image yang ingin digambarkan.

Apa yang menjadi masalah saya? Hmm, film ini seharusnya sedih. Film ini seharusnya bisa membuat dada saya membuncah. Apalagi ketika adegan Dumbledore meninggal. Tapi ramuan Liquid Love rasanya terlalu membanjiri film ini dari awal sampai akhir. Roman percintaan yang ditonjolkan lebih banyak. Harry cinta ini, Ron dengan itu, Hermione dengan ini, Ginny dengan siapa, capek! Disini saya kurang merasakan bagaimana kesedihan Harry dan Hogwarts akan perginya salah satu penyihir terhebat. Bagaimana Harry memutuskan untuk mencari Hocrux sendirian, juga bagaimana jajaran kementrian, Orde Phoenix, menerima kematian Dumbledore. Plus satu lagi yang missing adalah ”Pangeran Berdarah Campuran” yang menjadi tagline nya tidak dijabarkan dengan jelas. Mengapa sampai ada julukan ini, dan kenapa Snape berperan penting untuk buku ketujuh. Maaf, pesannya tidak sampai!

Saya juga lumayan kecewa dengan visual efek dalam film ini. Terlalu standar! Mengingat saya baru saja menonton Harry Potter seri keempat di televisi beberapa hari yang lalu, dimana Lapangan Quidditch, Danau dan Hogwarts di visualisasikan dengan begitu indahnya. Oke, tarian api milik Bellatrix dan Dumbledore memang keren, tapi selebihnya tidak ada yang istimewa dari segi visual. Apalagi mengingat dalam film ini lebih berpusat pada cerita Harry dan Dumbledore, dan adegan duel tongkat sihir jarang terjadi.

Overall, silahkan menonton film ini kalau ada sudah termasuk taraf Potterholic seperti Umbridge yang memaksa saya ikut nonton, plus silahkan membaca (atau minimal nonton) dulu seri pertama sampai kelima Harry Potter. Kalau tidak ada akan keteteran dan terengah-engah selama mengikuti film ini. Bagi yang belum membaca bukunya akan bingung dengan alur ceritanya (terbukti dengan beberapa Muggle di belakang saya yang hanya bisa mengeluh selama film berlangsung karena tidak mengeratahui esensi filmnya). Saya hanya membayangkan bagaimana perasaan orang mengantri sepanjang 1 kilometer itu yah? Karena bagi saya, film ini kurang pantas mendapat apresiasi sebesar itu. Selamat pagi semuanya!

Trailer Film Harry Potter and Half Blood Prince

King, Gabungan keindahan dan semangat bangsa Indonesia

Title : King
Produser : Ari Sihasale,
Produksi : Alenia Pictures,
Pemain : Rangga Raditya, Lucky Martin, Surya Saputra, Mamiek Prakoso, Ariyo Wahab, Wulan Guritno, Argo “aa Jimmy” ,
Sutradara : Ari Sihasale,
Penulis : Dirmawan Hatta.


Minggu ini ada 3 pilihan film yang layak tonton. KCB, Garuda Di Dadaku, Transformer 2, dan King. Ternyata film terakhir justru yang paling awal saya tonton. Tak apalah, lumayan sebagai penghilang stress di hari minggu.
Badminton (bulutangkis) selalu mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia. Lihat saja ketika musim Uber Cup ataupun Thomas Cup semua orang dilanda ”perang bulu”. Mulai dari kota sampai ke pedesaan. Gak punya raket? Gampang! Cari saja tripleks yang bisa ditambahkan pegangan. Holla! Kita sudah bisa bermain badminton. Banyak pula orang yang bermimpi untuk bisa menjadi seperti jagoan-jagoan badminton tersebut. Sebut saja Taufik Hidayat, Liem Swie King. Nama terakhir ini pulalah yang menjadi ”bekal inspirasi” dari film King.
Diawal cerita kita akan diajak berkenalan dengan Guntur. Seorang anak dari desa di pelosok Banyuwangi. Memiliki ayah yang penggemar berat badminton rasanya menjadi terlalu berat untuknya. Mimpi Guntur seakan tidak bisa dilepaskan dari mimpi ayahnya juga. Mimpi apa? Tentu saja untuk bisa menjadi atlet badminton hebat dan mengharumkan nama Indonesia. Pertandingan demi pertandingan Guntur ikuti untuk mengasah bakatnya. Sayang seribu sayang, bahkan untuk membeli raket pun Ayah Guntur tidak mampu.
Apa yang terjadi kemudian? Seorang sidekick tentu saja sudah dipersiapkan. Ada yang selalu membantunya. Walaupun harus ”nyolong” dari penjual balon, minjam raket milik orang lain, selalu ada cara. Akhirnya Guntur pula yang akan ”disidang” oleh ayahnya.
Satu scene dialog yang paling membekas dari film ini,

”kamu menjadi juara apa? Seorang juara tidak akan merepotkan banyak orang”
Perjalanan Guntur dalam meraih mimpinya janganlah terlalu banyak saya paparkan disini. Saya tidak mau menjadi spoiler. Yang pasti banyak hal yang mewarnai perjalanan seorang Guntur untuk bisa sampai di Kudus. Tempat dimana banyak pebulutangkis handal Indonesia dilahirkan disana.
Ekspektasi saya terhadap ”taste” seorang Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen akan gambar-gambar cantik terjawab pula di film King. Lihat saja scene-scene indah yang ditawarkan film Denias, semuanya terulang lagi disini. Landscape tanah jawa yang begitu eksotik, deretan wilayah yang masih sangat Indonesia, sampai kultur yang begitu membumi. Semuanya terpoles menjadi satu kenyataan, ”benarkah Indonesia secantik ini?”. Dan jawabannya adalah ya!
Dari sisi alur cerita, bolehlah kita mengacungkan jempol untuk film ini. Dari sebuah petikan wawancara yang saya tonton beberapa waktu yang lalu, memang film King ini diangkat dari autobiography Liem Swie King. Ditambah beberapa bumbu di sana-sini. Sangat tepat untuk menggambarkan ”perjalanan” seseorang untuk meraih mimpinya. Walaupun menurut saya film ini terasa ”tanggung” dari segi emosi. Dari awal kita sudah diajak dengan alur yang ringan, penuh canda, dan mengajak kita rileks. Tapi ada beberapa scene yang seharusnya bisa dibuat lebih emosional. Terutama scene antara Guntur dan ayahnya. Mungkin karena terpengaruh dengan faktor Semua Umur, jadinya faktor emosinya tidak digarap terlalu dalam. Saya merasa film ini menjadi agak terlalu datar. Coba porsi pertentangan Guntur dan ayahnya mendapat porsi yang lebih banyak ataupun porsi emosional Guntur dalam ”melawan dirinya” sendiri dalam berbagai pertandingan diperbanyak, pasti film ini menjadi lebih membekas.
Deretan aktor dan aktris pendukung layak mendapat standing ovation. Terutama peran Mamiek sebagai seorang ayah. Bagaimana budaya dan kebiasaan ayah di seluruh Indonesia tergambar di perannya.

”Kalau seorang ayah menjadi lemah, bagaimana dia tampak di depan anaknya?”

Padahal seorang anak pun terkadang harus mengenali juga kelemahan dan kemampuan seorang ayah supaya tidak pernah terjadi salah paham. Sahabat Guntur, Raden, juga mencuri perhatian. Tanpa dia Guntur akan menjadi sosok yang berat. Yang tidak bisa menikmati hidup. Mungkin peran yang paling tidak penting di film ini peran Wulan Guritno kali yah. Asli Cuma sebagai ”pemanis” saja. Menjadi suatu hal yang agak berlebihan. Yang berlebihan lagi? Ada! Soundtrack yang dinyanyikan oleh sang Raja soundtrack, Ipang, diulang di 3 SCENE yang berbeda!!! What the hell?? Kalau memang kata-kata ”kita adalah bangsa pejuang” yang ingin direpitisi carilah lagu yang lain. Karena menurut saya satu lagu mestinya mewakili satu adegan. Gak usah diulang-ulang lagi!
Satu hal yang agak mengganggu saya juga dalam film ini adalah deretan iklan yang menjadi sponsor. Saya menjadi bingung akhirnya. Apakah film ini dibuat berdasarkan pesanan sponsor, atau sponsor masuk setelah melihat filmnya yang cocok dengan produk mereka? Saya sangat teriritasi saja melihat berbagai produk itu dalam scene di film King. Apalagi di bagian Ending, seolah-olah film ini merupakan pesanan PT. Djarum. Okelah kita tidak bisa menyangkal bahwa banyak atlet badminton yang berasal dari sana. Apalagi ketika melihat ”Hall Of Fame” yang terpampang di aula utama. Seiring dengan promo film ini, di televisi juga gencar promo beasiswa bulutangkis Djarum. Tapi yasudlah. Kalau memang tempat itu bisa menjadi mimpi banyak orang di Indonesia, setidaknya mereka tahu kemana mereka harus pergi kan?
Pada akhirnya saya menyatakan salut untuk seluruh deretan kru dari film King ini karena mereka sudah berani menyuguhkan suatu tayangan yang berbeda. Berbekal kekhawatiran kurangnya tayangan yang bermoral untuk anak-anak. Di saat liburan sekolah seperti ini, film King layak untuk dijadikan hiburan. Daripada nonton film Pocong yang tidak jelas!

Bukan Cinta Biasa, sebuah film lebay dari segala arah




Title : Bukan Cinta Biasa
Sutradara : Benni Setiawan
Cast : Wulan Guritno, Olivia Jensen, Ferdy Taher, Julia Perez,


”saya kira akan melihat banyak air mata dari film ini”

Itu ekspektasi Tata ketika Film ”Bukan Cinta Biasa” sudah berjalan setengah. Saya pun mengiranya demikian. Mengingat soundtrack film ini dinyanyikan oleh Afgan dengan sangat syahdu. Atau karena dua pelawak (merujuk kepada saya dan Tata) yang menonton film ini? Karena selama durasi 2 jam penayangannya, kami hanya bisa tertawa dan bersorak ribut untuk film ini. Mencelanya tentu saja. Sedangkan penonton lain? Sedang asyik masyuk pacaran. Oh dear, malang nian nasibku kalau begitu. Mungkin film ini bisa lebih ”dimaknai” ketika ditonton bersama pasangan tercinta, malam itu kami adalah pasangan jomblo yang dipaksakan. Haha!
Saya tidak akan bertindak sebagai seorang movie freak yang akan membahas hal-hal teknis sana sini untuk film ini. Cuma sebagai penikmat film saya pun bisa berkomentar film ini dangkal dari segala aspek. Ini cerita sebenarnya mengarah kemana? Cinta ayah dan anak? Cinta pasangan muda mudi? Cerita mengenai rocker yang tidak laku lagi? Atau malah jadi film religi? Karena terlalu banyak plot yang mungkin dimaksudkan menjadi penguat satu sama lain tapi akhirnya menjadi saling terpilin. Menjadikan jalan ceritanya menjadi tidak tentu arah. Yang mana sebenarnya menjadi cerita yang dominan.
Seandainya yang dijadikan sentral utama cerita adalah emosi hubungan ayah dan anak yang tidak pernah ketemu selama 16 tahun, film ini mempunya kesempatan untuk menjadi film yang bagus. Bagaimanapun kehilangan momen selama 16 tahun itu tidak bisa dirangkum dalam satu malam. Ataupun dari adegan mengecat kamar bareng ataupun berbelanja di supermarket. Konflik emosional semestinya bisa lebih ditonjolkan kepada alasan sang ayah sebenarnya untuk meninggalkan dia dulu. Kedengaran seperti deja vu? Percayalah bukan hanya anda saja yang sepertinya familiar dengan ide cerita seperti ini.
Aspek ”komedi romantis” yang ingin dilekatkan dalam film ”Bukan Cinta Biasa” akhirnya menjadi sesuatu yang ambigu. Bukan cinta biasa ini merujuk kepada apa? Seandainya merujuk kepada father complex, pasti menjadi hal yang seru. Atau misalkan bentuk cinta yang lain, mungkin film ini akan menjadi tepat. Tapi saya menjadi kehilangan arah. Bukan cinta biasa yang dimaksud itu apa? Kalau dibilang cinta seorang ayah kepada anaknya, ini mah wajar. Ada faktor gen dalam keluarga, jadi perasaan sayang itu akan menjadi sesuatu yang tumbuh menjadi hal wajar.
Masih dari plot cerita, kok bisa tiba-tiba ada scene pesantren? Okelah kalau misalnya ingin ditonjolkan seorang anak yang ingin berbakti kepada ayahnya. Niat melihat ayahnya menjadi orang yang lebih baik. Apakah memang faktor kebaikan itu bisa dilihat dari orang yang akrab dengan minuman keras menjadi seseorang yang bisa insyaf dalam satu malam? Terlalu dipaksakan sayang. Hidup ini tidak seindah itu.
Film ini menjadi parade sponsor yang hilir mudik sepanjang jalan cerita. Mulai dari sponsor minuman sampai radio yang lagi happening. Dengan shoot yang kadang menghajar mata, parade iklan itu terkadang menjadi pengganggu. Dan ini semakin membuktikan juga, ada banyak film berkualitas lain yang layak didukung, tapi kenapa mesti film sekelas ini?
Dari jajaran pemain yang ikut ambil bagian hanya nama Wulan Guritno lah yang layak mendapat acungan jempol. Aktingnya total. Feelnya dapat. Special Appareance dari Afgan juga menarik, dengan Remix lagu Terima Kasih Cintanya. Sedangkan yang lain? Miss cast. Ingin membuat saya muntah. Olive jansen yang berperan sebagai sang anak, tak ubahnya sebagai Cinta Laura kedua. Dia lama tinggal sama nenek dan kakeknya, darimana dia mendapat logat sok bule itu? Sosok rocker pun hanya awal-awalnya saja yang pas, menuju ke ending film, Ferdy Taher menjadi semakin lebay. Semakin memuakkan. Apalagi di scene endingnya. Terlalu dipaksa. Image seorang rocker yang telah makan asam garam pertunjukan, groupies, minuman keras, langsung tergantikan dengan sosok anak band kacangan yang baru mencari identitas. I’m sorry dude.
Satu yang mencuri perhatian telinga saya adalah jajaran soundtrack yang memikat. Ada beberapa track yang mengalun selama pertunjukan film ini dan itu bagus. Walaupun tidak sesuai dengan adegan dalam filmnya, track-track tersebut bisa berpotensi menjadi hits ketika dirilis sebagai sebuah singel. Ah ada nama Ipang rupanya diantara jajaran soundtrack tersebut. Pantas saja.
Overall, walaupun untuk sebuah film yang ditonton gratis setelah memaksa seorang produser radio memberi kami tiket nonton tersebut, ”Bukan Cinta Biasa” tetap menjadi tontonan yang tidak layak dinikmati. Skala kebosanan muncul dari awal sampai akhir film. Apalagi dengan melihat banyaknya pasangan yang berasyik masyuk menonton film ini. Ah nasib kami menjadi jomblo!

Turning Back Point : Get Married!

Nope, nggak lah. Nyangka saya bakal married? Makasih. Tapi tidak. Saya cuman merasa saat ini menjadi salah satu turning point saya lagi. Dimana semua berubah. Entah keatas ato entah ke bawah. Tanya saya? Jangan. Bahkan saya sendiri pun tidak bisa menjelaskan apakah saya sedang mengalami degradasi perasaan ato mencari pembenaran akan semua yang saya lihat dan saya rasakan.
Nggak nyangka udah sebulan, dimana sang isi kepala tetap berada dalam pengasingan. Tetap berada dan menjamur dalam sela-sela otak yang semakin lama semakin menggila. Yak, ini saatnya kalian mengambil nomor antrian lagi. Untuk keluar!!! Dan sedikit memberikan ruang yang kosong bagi otak yang sudah semakin menua ini. Mudah-mudahan semua berjalan lancar lagi, dan semua cerita, semua perasaan dan semua pengalaman bisa terpetakan kembali secara fisik sebagaimana mestinya, sehingga saya tidak perlu mengalami deja vu hanya untuk mengetahui bahwa saya pernah berjalan di tempat yang sama. Salam. Inilah yang berhasil memegang tiket antrian nomor 1 yang mesti keluar dari kepalaku...


Get Married, a film by Hanung Bramantyo



Okelah, sikap skeptis saya akan film dalam negri sendiri sempat membuat bete dan membuat ”perdebatan yang tidak penting” antara saya dan teman-teman saya. Karena menurutku film indo masih agak-agak ”kurang” untuk dijadikan pilihan untuk membuang-buang uang dengan menontonnya di bioskop. Tercatat hanya beberapa film saja yang menarik di mataku, seperti Mengejar Mas-Mas (asli ni film keren banget! Konstruksi budayanya dalem!!!), Coklat Stroberi (just three words, Precious-Emptyness-Desire, salut untuk pesan non verbalnya!!!), Selamanya (sebenarnya film ini sangat tidak penting, tetapi dipaksa menjadi penting karena waktu itu saya sedang merayakan kebahagian satu pasang manusia yang sedang bercinta, dan saya dijadikan kambing congek). Dan inilah film yang memuaskan hasratku untuk melihat tontonan berkualitas. Get Married!!!
Apalagi saya agak heran, tampaknya ramadhan kemarin merantai semua setan emang benar karena sekarang Sundel Bolong, Kuntilanak, dan Pocong sedang gentayangan di bioskop-bioskop. Sangat tidak jelas dan tidak menarik.
Diawal cerita, kita sudah disuguhi sindiran yang lumayan ”pedas” akan gambaran diri sendiri. Mulai dari gambaran masyarakat indonesia yang emang sebagian besar masih berada di bawah garis kemiskinan. Dan itu semua digambarkan dengan nyata dan sangat jelas. Potongan-potongan kehidupan 4 orang anak mulai dari proses kelahiran, sampe cita-cita mereka sudah lumayan memberikan gambaran akan seperti apa tokoh yang akan bermain didalam film ini.
Diawali seorang Mae (Nirina Zubir) yang sobatan dengan ketiga temannya yang sangat tidak jelas kehidupannya, Eman (Aming), Beni(Ringgo), Guntoro (Desta). Disini hidup berjalan sebagaimana mestinya. Dimana persahabatan mereka udah kayak sodara, dan hari-hari mereka lewati dengan tertawa bersama. Satu persoalan yang kemudian diangkat menjadi tema besar dalam film ini oleh Hanung, yaitu tema pernikahan yang kemudian bagi kebanyakan orang Indonesia masih menjadi jalan keluar. Ketika Mae, sudah dirasakan menjadi beban bagi keluarganya (ketika udah berumur 25 tahun, gak jelas status apa, sarjana lagi!), maka dia diputuskan untuk dinikahkan. Penggambaran keinginan orang tua Mae (Meriam Belina dan Jaja Miharja) pun cukup gamblang dijabarkan. Padahal mestinya kita merasa malu, dengan pengungkapan seperti itu, tapi ketika melihat potongan filmnya saya langsung menganggap hal yang lumrah. Larena kita masih tinggal di Indonesia. Maka jadilah orangtua Mae masuk ke kampung sebelah (karena secara habit, orang sekampung udah tau Mae tuh anaknya gimana =D), demi mencarikan perjaka ting-ting buat Mae.
Apakah rencana itu berjalan lancar? Tentu iya dan tidak. Iya ketika sang calon datang kerumah Mae untuk sekedar melihat-lihat (buset bahasanya! Tapi emang ini ada di adegan salah seorang calon Mae!) dan berkenalan dengannya. Tidak, ketika ternyata sang sahabat sudah waib membatu ”menyelamatkan” Mae dari ketidak senangannya pada sang calon. Maka jadilah adegan kocak yang dilakukan di sudut kampung.
Fim berlanjut ke Rendy (Richard Kevin) yang tipikal anak gedongan, besar di state. Tapi masih memiliki sense akan jodoh yang baik. Yang katanya bisa dijadikan tantangan, dan tidak setipe dengan perempuan seperti sekarang (nih pertanyaan buat kaum cewek, kalian merasa setipe gak?). setelah bodyguardnya dikerjai oleh 3 sahabat Mae, dia kemudian merasa tertarik untuk melihat seistimewa apa sih, cewek yang hanya bisa dinikahi ama anak raja, ato anak sultan. Dan berkunjunglah dia ke kampung dimana Mae bermukim. Ketika cinta berkata inilah saatnya untuk bertemu, masih ada 3 makhluk yang tidak jelas yang menghalanginya. Dan disinilah cerita kemudian mendapatkan kuminasinya. Ketika Ibu Mae sakit dan salah penyembuhannya adalah melihat Mae nikah. Udah hopeless akan calon-calon yang tidak jelas, Mae memutuskan untuk memilih dari 3 sahabatnya.
Randy yang tidak puas dikerjai ama anak kampung kemudian dihasut oleh sang bodyguard (lagi-lagi statement di adegan ini sangat menonjok muka moral orang-orang di Indonesia!!!—dimana mari kita memperlihatkan cara Indonesia,, ugh!) dan mereka memutuskan untuk menyerang kampuang tersebut. Di hari jadi Mae dan Ringgo, Rendy dan teman-temannya melakukan penyerbuan ke kampung Mae. Dan kericuhan pun terjadi, suasana chaos digambarkan dengan sangat khas oleh Hanung. Sampai Mae dan teman-temannya pun kabur dari upacara ijab kabul dan memilih untuk membela kampung. Sampai kemudian, pada saat berkelahi, Mae menonjok Rendy... disitulah baru dia kemudian sadar akan apa yang terjadi. Endingnya,,, nonton sendiri kali yee!!!
Dijamin kalian tidak akan merasa rugi untuk mengeluarkan duit 15 ribu perak (kalo dimakassar sih harga tiket Cuma segini diluar hari nomat), karena ekspektasi kalian akan sebuah film yang menghibur akan terpenuhi. Dan janganlah menonton film ini sendirian, kalian akan kehilangan esensi ”kegilaan yang dilakukan bersama teman”. Banyak sekali frame-frame menarik, gambaran pemukiman kumuh yang menjadi gambaran masyarakat Indonesia. Gejala sosial yang sudah semakin menjadi dan persahabatan yang masih mempunyai nilai, digambarkan dengan sangat gamblang di film ini. Apalagi kelucuan yang ada tidak dibuat atrifisial dan dimaksudkan untuk melucu, tetapi hanya dengan dialog yang lugas justru semakin membuat kelucuan didalam pesan yang ingin disampaikannya.
Penataan soundtrack yang sebagian besar di nyanyikan oleh kelompok Slank, sangat membantu atmosfir film ini. Lagu-lagu familiar seperti Orkes Sakit Hati, Pandangan Pertama menjadi backsound yang sangat membantu, sangat membantu untuk tersenyum.
Terakhir, salut buat mas Hanung. Karena satu karya yang menghibur, orisinal, dan mendidik bisa hadir kita nikmati lagi, walaupun saya agak kaget ketika keluar dari studio kemudian melihat poster ”SUSTER N, dendam suter ngesot” yang dikerjakan oleh orang yang sama. Sudahlah, saya sudah sangat bahagia nonton film ini. Udah siap ato udah harus Get Married???