Rasanya sudah lama saya tidak bercerita mengenai kisah cinta. Sebuah rasa yang saya pikir telah lama menghilang. Tapi bukankah itu berarti saya melanggar kodrat sebagai manusia? Karena mencinta merupakan sifat dasar yang telah menjadi bawaan dan akan selalu ada.
Setiap saat ada orang yang bertanya, “mengapa tidak menjalin dan membuka sebuah hubungan baru?”,
jawaban saya selalu sama,
“untuk apa? Ada banyak sahabat dan teman yang bisa saya ajak berbagi. Sahabat yang selalu mengerti, sahabat yang selalu ada”
Tapi rasanya jawaban itu hanya berlaku beberapa tahun yang lalu. Disaat semua sepi bisa tertutupi oleh rutinitas di kampus, riuhnya tawa bersama teman, atau lelahnya pikiran karena organisasi. Sepi itu tidak pernah menyeruak ke alam sadar. Toh, walalupun sepi itu datang menyerang, ada seribu alasan untuk langsung menimbunnya dalam-dalam.
Memang selama beberapa rentan waktu yang lalu, selalu ada orang bermain di dalam perasaan. Rasa ingin memiliki dan dimiliki juga ada. Tapi rupanya kecewa masih menjadi jawabanya. Mereka hanya ingin melihat apa yang mereka mau. Tanpa memikirkan beginilah saya apa adanya. Akhirnya mereka hanya menjadikan hati saya sebagai tempat sampah. Yang akhirnya mematikan perasaan ingin mencinta itu.
Sekarang keadaan berkata lain. Semua orang telah berdewasa. Sahabat-sahabat yang bersama saya telah memasuki kehidupannya masing-masing. Kami dulu yang begitu sering berkumpul, tertawa, makan bersama, sudah terpisah. Saya yang menemani mereka menemukan cinta sampai kehilangan cinta juga. Saya yang terus berdiri sendiri. Tanpa sadar ternyata rasa sepi itu semakin mencekam dan membesar setiap hari.
Sampai akhirnya datanglah dia. Yang kedatangannya bersama sang hujan. Saya masih ingat hari itu. Hari jumat, jam 10 pagi. Saya melihat senyumnya. Saya melihat sesuatu yang spesial didirinya. Dan memang benar adanya, hati yang saya kiranya sudah mati, ternyata bisa tergerak melihatnya. Perhatian yang saya pikir hanya bisa saya berikan untuk diri sendiri, mengalir secara alami untuk dia. Memikirkan bagaimana dia menjalani hari, bagaimana dia melakukan semua aktivitas, dan bagaimana kami memulai sebuah hubungan. Semuanya begitu alami, dan saya yakin dialah yang saya tunggu selama ini.
Sebuah perjalanan yang sarat emosi ketika waktu saya habiskan bersamanya. Ada begitu banyak teman dan sahabat yang bertanya,
“siapa yang bisa menaklukkan hati seorang iqko? Yang selalu sinis terhadap semua hal yang berbau cinta?”
Saya hanya bisa mengulum senyum dan menjawabnya, “hanya dia. Dia, dan dia.”
Dia yang menemaniku ketika sedih, dia yang menemaniku ketika gundah meraja. Saya pun berusaha terus mengenal dia dan berusaha menjadikannya sebagai pusat semesta. Ada begitu banyak janji yang terucap, ada begitu banyak kenangan yang telah terbuat.
Rupanya perasaan sepi tidak mau ditinggalkan begitu saja. Dia begitu marah ditinggalkan di pojok kenangan. Hampa dan tidak berlaku lagi. Sang sepi mulai bertindak, memainkan perasaan dan memainkan kenangan.
Pertanyaan itupun akhirnya menyeruak kedalam alam pikiran, “pantaskah saya dicintai sebesar itu? Pantaskah saya menjadi pusat semestanya?”
Kali ini ternyata sepi berhasil menang. Rasa rendah diri dan rasa tidak percaya kembali meraja. Ketakutan akan kehilangan dia setiap hari semakin membesar. Padahal orang bijak selalu berkata, “ketika suatu ketakutan semakin terpikirkan setiap hari, maka hal itu pasti terjadi”. Ternyata hal itu benar. Saya pun melakukan kesalahan itu. Kesalahan yang sama dimasa lalu. Tidak percaya saya pantas dicinta olehnya dan ingin sendiri lagi.
Kini satu cerita sudah berakhir. Meninggalkan sepi sebagai pemenang. Dan saya harus kehilangan dia. Tanpa dia pernah tahu, ada banyak tempat yang terekam tentangnya, ada banyak lagu yang mengingatkan tentangnya, ada banyak kenangan mengenai dirinya. Apakah saya yang salah? Untuk saat ini jawabannya tentu saja iya. Karena saya belum belajar berdewasa. Belajar melawan sepi. Melawan pikiran dalam diri sendiri. Tidak pernah menghargai dia yang begitu sayang dan percaya dengan saya.
Saya masih ingat satu baris kalimat untuknya, “saya akan belajar berdewasa untukmu. Sampai suatu saat kesalahan itu bisa saya perbaiki dan bahagia menjadi milik kita lagi”.
Tidak ada lagi kata kita. Hanya aku dan dia. Saya dan kamu. Tapi saya percaya, semuanya dimulai dari awal lagi. Saya percaya, masih ada terang yang menanti di hari esok.
Sebuah cerita tentang dia.
Masih beranikah kita bermimpi di negeri ini?
Judul Film : SangPemimpi
Sutradara : Riri Riza
Produser : Mira Lesmana
Produksi : Miles Film dan Mizan Production
Cast : Mathias Muchus, Lukman Sardi, Rieke Dyah Pitaloka, Nugie, Landung Simatupang, Yayu Unru, Jay Wijayanto, Nazril Irham. Serta memperkenalkan Vikri Septiawan (Ikal), Rendy Ahmad (Arai), dan Azwir Fitrianto (Jimbron)
Rasanya masih terbayang di benak ketika setahun yang lalu saya menyaksikan Laskar Pelangi. Ditengah penonton yang antri nonton di hari pertama pemuataran, kami seperti segerombolan rookie yang penasaran akan satu pertanyaan, “akankah Riri Riza mampu menerjemahkan bahasa tulisan menjadi bahasa gambar?”
Jawabannya tentu saja, iya! Laskar Pelangi mungkin film Indonesia terbanyak yang saya saksikan di bioskop. Top score karena saya sampai menyaksikannya 3 kali lewat layar lebar itu. Tidak puas-puasnya saya menikmati suasana alam Belitong, perjalanan Ikal dan kesembilan anggota Laskar Pelangi, suasana haru yang ditawarkan. Semuanya begitu berkesan apalagi ketika itu saya sendiri sedang mengejar mimpi yang bisa dikatakan lumayan mustahil. Mengejar beasiswa ke Amerika.
Sekarang perjalanan Ikal sudah lumayan berubah. Sang Pemimpi merupakan buku kedua dari Tetralogi Laskar Pelangi milik Andrea Hirata. Kali ini kita akan mengikuti perjalanan Ikal dalam menikmati masa remaja, dengan segala pertanyaan-pertanyaan dan hasrat masa muda, serta keinginan untuk meraih mimpi.
“Jangan pernah takut untuk bermimpi. Seluruh dunia akan membantumu memeluk mimpi itu”
Rasanya seperti mendengarkan sebuah kutipan dari buku Sang Alkemis milik Paulo Coelho. Hayatilah impianmu, bekerja keraslah, niscaya mimpi itu akan terwujud. Rasanya saya tidak perlu menjelaskan lagi bagaimana isi dari buku Sang Pemimpi ini. Mungkin ada diantara anda yang lebih khatam duluan melewati saya dalam menyimak dan menikmati buku ini. Tidak perlulah lagi saya menjelaskan siapa itu Pak Mastar, Pak Balia, atau Zakiyah Nurmala. Semua orang sudah tahu, inilah tokoh-tokoh sentral yang membantu Ikal, Arai, dan Jimbron menghayati mimpi mereka.
Petualangan 3 sahabat ini lebih banyak mengambil setting di daerah Manggar, dimana disitulah letak SMA satu-satunya yang ada di daerah itu. Seberapa jauh? Sangat jauh, sehingga ketiga sahabat ini memutuskan untuk tinggal di rumah kontrakan. Kita juga melihat bagaimana Ayah Ikal yang harus bersepeda dan mengenakan baju safari andalan ketika mengambil rapor milik Ikal dan Arai.
Disini kita akan mengikuti pengalaman Ikal dalam menjaga kepercayaan sang ayah dalam menempuh pendidikan, emosi Arai yangselalu ingin membantu dan membahagiakan orang lain, serta Jimbron yang ingin lepas dari masa lalunya. Setiap orang berhak memiliki masa depan masing-masing.
Bagaimana taste Riri Riza dalam menggarap film ini? Apa tanggapan saya ketika selesai menyaksikannya? Speechless. Terharu. Ya, saya mengakuinya. Ada banyak adegan yang membuat saya berkaca-kaca. Kenapa? Rasanya saya melihat adegan kehidupan saya sendiri dalam film itu. Pergulatan batin yang saya rasakan ketika SMA dulu. Hal ini pun ditangkap dengan baik oleh sang sutradara hebat itu. Dia berkata,
“senikmat apapun kita menikmati ruang berAC, sesungguhnya didalam diri kita masih ada jiwa anak kampong yang tersimpan. Jiwa bebas dan pernah juga memiliki mimpi. Sehingga banyak kejadian di buku Laskar Pemimpi seakan menjadi bagian hidup kita juga dulu. Oleh karena itu kita menyukai cerita semacam ini.”
Pemandangan-pemandangan indah Belitong, suasana pelabuhan yang atraktif, serta suasana sekolah yang begitu kental dengan dunia remaja bisa dijabarkan dengan jelas. Tentu saja kita tidak bisa mengharapkan sebuah buku akan diterjemahkan mentah-mentah, bukankah image of theatre setiap orang berbeda-beda?
Mungkin disinilah letak permasalah ketika sebuah buku difilmkan. Saya dulu begitu marah dan menghina ketika Jomblo di filmkan. Tapi menyaksikan Sang Pemimpi, ada ikatan batin dengan masa lalu kemudian terkuak kembali. Bahwa saya pernah menjadi orang seperti Ikal, Arai, dan Jimbron. Pernah merasa terluka, jatuh cinta, sedih, marah disaat yang sama. Image yang ditawarka kru produksi film ini tidak mengecewakan. Adegan-adegan penting bisa terangkum dengan jelas serta emosi yang tersalurkan bisa didapatkan feelnya. Sama seperti ketika membaca bukunya.
Bagaimana dengan akting para pemain? Percayalah bahwa memang Riri Riza dan Mira Lesmana memiliki Sixth Sense dalam mempercayakan sebuah peran. Buktinya ketiga anak Belitong yang memainkan karakter Ikal, Arai, dan Jimbron versi remaja tidak kelihatan bahwa film ini adalah debut akting mereka. Semuanya terlihat professional dan mampu menghayati karakter yang telah ada. Untuk Lukman Sardi, Mathias Muchus, Rieke Diah Pitaloka, atapun Landung Simatupang rasanya tidak usah lagi kita pertanyakan kualitasnya. Mereka adalah raja dan ratu di dunia itu. Bagaimana dengan Nazriel Irham? Hahahaha. Mungkin agak geli ketika pertama kali melihatnya, tapi sekali lagi satu pesan Riri Riza,
“kami berani mengambil resiko dengan tidak memperkenalkan dia sebagai Ariel Peterpan. Karena kami ingin masyarakat menilai dan menyaksikan Ariel sebagai seorang pemain film. Bukan pemain band dengan segala kepopulerannya”
Walaupun jadinya agak susah sih, karena tiap orang sekali lagi sudah punya bayangan siapa yang cocok memainkan Arai dewasa ini.
Satu hal yang berperan penting dalam film ini juga adalah tata musiknya. Ada Aksan dan Titi Sjuman yang bertanggung jawab menghadirkan suasana Melayu kental dan juga Rhoma Irama yang bernyanyi dengan semangatnya. Great! Atmosfer emosinya menjadi begitu terasa.
Catatan terakhir yang mungkin tersisa, setelah menyaksikan film ini kita akan dipaksa kembali menemukan hubungan antara ayah dan anak, perjuangan antar sahabat, serta kerja keras dalam meraih mimpi. Karena saya percaya, semua mimpi orang bisa terwujud. Maka bebaskan, bebaskan hidupmu!
Konsep pendidikan keluarga.
Dalam keluarga saya, sejak dari kecil kami sudah dibiasakan untuk mengambil tanggung jawab atas hidup kami. Contoh sederhana,
Saya : ma, saya mau ikut les bahasa Inggris. Ikut tidak yah?
Ibu : penting tidak?
Saya : Penting.
Ibu : kamu nilai sendiri. Kalau memang kamu rasa penting. Ambil. Karena kamu yang menjalani. Tapi jangan mengeluh kalau waktu mainmu terambil sebagian.
Dan syukurlah karena mungkin kami semua (saya beserta kakak dan adik) diberikan kapasitas berpikir yang lebih besar daripada orang lain. Akhirnya semua permasalahan tentang pendidikan kembali ke tangan kami semua. Mau masuk sekolah mana. Mau masuk jurusan apa. Mau belajar apa tidak sewaktu ujian. Semuanya dikembalikan ke kami. Dan perlahan-lahan saya pun mempunyai tanggung jawab untuk memperbaiki kualitas pendidikan yang saya bisa. Ada satu hal yang sangat terekam dalam kepala saya perkataannya Ibu tentang pendidikan,
”Biar saja Ibu dan Bapakmu bodoh. Hanya lulus SMP saja. Tapi kalian harus pintar. Supaya besok bisa hidup lebih baik dari kami.”

Kenapa hal ini sangat mengganggu pikiran saya? Kemenakan saya di sebelah rumah tidak lulus SMP. Sekolahnya termasuk unggulan pula! Sedangkan anak-anak lain di sekitar rumah kami walaupun sekolah swasta tetapi bisa lulus SMP. Apa yang menjadi masalahnya? Ibu seorang kepala bagian di Pengadilan Tinggi. Ayahnya seorang insinyur. Kok bisa anaknya lulus SMP saja tidak?
Ada banyak hal yang terakumulasi dalam perjalanan kehidupan kemenakan saya itu. saya tidak mungkin menyalahkan atau menghakiminya. Siapa saya? Cuma terkadang miris saja. Sudah dari dulu saya sering memanggilnya untuk belajar. Cuma karena kepala batu, yah tetap aja ngeyel. Permasalahan utama memang berasal dari rumah. Ibunya adalah seorang pegawai kantor. Pulang jam 5 sore. Habis itu belanja untuk masakan di kantin keesokan harinya. Sedangkan ayahnya sibuk juga. Mengurusi proyek LPPM yang ada di daerah kami. Akibatnya? Anaknya yang lebih senang nongkrong di rental playstation daripada tinggal di rumah. Lebih senang keluyuran daripada belajar.
Saya masih ingat ketika saya kecil, jam 7 malam sudah harus masuk rumah. Belajar. PR dikerjakan semua. Setiap ada ulangan semuanya harus dihapal. Walaupun terkadang ada beberapa pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh ibu ataupun bapak, setidaknya mereka menyuruh kami untuk membaca dan belajar. Itu yang terbawa sampai sekarang. Dimana saya bisa mengerti dan memahami keinginan orang tua. Karena pendidikanlah yang membedakan posisi kita dengan orang lain.
Okelah mungkin kedengarannya sangat klise. Tapi begitulah yang terjadi. Dalam konsep psikologi, seorang anak (pembahasan di skripsi tercinta) akan merekam kebiasaanya dan terus membawanya serta. Kalau memang dibiasakan baik, dia akan baik. Walaupun nantinya akan ada faktor dari luar yang ikut mempengaruhi, setidaknya ”isi dalam”nya sudah benar dululah. Belakangan soal memutuskan ini benar atau tidak. Tergantung insting yang akan diikuti anak tersebut.
Jadi bagaimanakah konsep pendidikan ideal yang harusnya diturunkan oleh orang tua kepada anaknya? Masih banyak hal yang harus dipertimbangkan tentu saja. Faktor ekonomi yang membuat orang tua harus bekerja ekstra untuk keperluan sang anak. Faktor pembiasaan dalam rumah, dan masih banyak faktor lainnya. Tapi setidaknya saya sadar akan satu hal. Ketika kita benar-benar memberikan perhatian khusus kepada anak mengenai pentingnya pendidikan, dia akan membawanya seumur hidup. Bahwa itulah nantinya yang akan menjadi modal dasar untuk menghadapi dunia.
*penghargaan tak terhingga untuk Ibu dan Bapak yang telah mengajarkan kami untuk selalu belajar. Walaupun cambukan sapu lidi itu dulunya begitu perih di betis dan tangan, setidaknya betis dan tangan itu sekarang bisa digunakan untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
First Love (never) die…
Saya selalu menjabarkannya dalam konsep cinta platonik. apa itu? kenapa cinta harus di konsepkan? Saya sendiri mendapat pencerahan mengenai cinta ini dari Elektra, tokoh dalam Supernova edisi Petir milik Dewi Lestari. Cinta platonik merupakan deskripsi cinta yang tidak perlu dikatakan, tetapi kita hanya merasakan bahwa cinta itu ada. Dan yang paling menyakitkan adalah bahwa cinta jenis ini tidak perlu berbalas. Cukup menghormati bahwa perasaan itu memang ada.
Siapa dia? Teman dari jaman SMP. Dia yang pertama kali membuat jantungku berdetak cepat ketika upacara dimulai. Kelas kami bersebelahan, itu artinya barisan kami dilapangan pun bersebelahan. Rasanya saya sanggup upacara dari pagi sampai siang (buset berapa kali lagu indonesia raya mesti diulang kalo seharian begini upacaranya?) hanya untuk melihat senyumnya. Mendengar suaranya, dan yah standar lah jamannya anak SMP. Gombal-gombal sedikit.
Saya sempat kehilangan dia. Dia yang menyatakan akan pergi dari Makassar untuk kuliah di kota lain. Saya sempat menahannya dan mengatakan,
”Haruskah kamu pergi? Tidak bisakah kuliah di Makassar saja bersamaku?”
Ya, perkataan jenis itu. yang biasanya hanya ada di novel-novel yang selalu saya baca. Tapi itu juga pernah saya katakan kepadanya. Jawabannya tentu saja dia pergi. Mengejar mimpinya sendiri sampai ke kota pelajar. Selama setahun saya tidak mendengar kabarnya. Tidak tahu dan tidak mau tahu. Tapi apa mau dikata, rindu memang selalu menyeruak. Saya menghubungi sang kakak untuk meminta nomor telepon dia.
Sang kakak? Yup. Dia yang memuluskan perjalanan cintaku selama SMU. Karena ternyata kakaknya adalah kakak kelasku di STM dulu. Perjalanan cinta yang berjalan sepihak. Tapi saya belum bisa mendiskripsikan apakah memang itu cinta atau tidak. Saya menikmati setiap debaran ketika saya menelpon ke rumahnya. Menikmati setiap janjian ketemu di mall. Jaman ketika fasilitas telepon selular masih kurang, rasanya dengan ngantri dan berjibaku di wartel setiap malam minggu rela saya jalani. Hanya untuk mendengarkan suaranya.
When I dream about you...
Girl you never go away…
Just close my eyes before my dream
Cause I still loving you.
Inilah lagu Stevie B yang menemaniku menulis postingan ini. Haha! So mellow! Karena euforia cinta itu saya rasakan lagi. Setelah 6 tahun berlalu. Setelah sebagian kepingan hatiku dibawanya serta. Saya tahu dia sudah di Makassar sejak beberapa tahun belakangan. Lepas kuliahnya di Yogyakarta. Tapi saya belum berani berhadapan dengan dia. Belum berani untuk meminta kembali kepingan hatiku yang dia bawa pergi. Saya pengecut. Karena saya takut ketika bertemu lagi saya belum siap. Jadinya saya harus menunggu selama 2 tahun untuk bertemu.
Kemarin akhirnya saya bertemu dengan dia lagi. Setelah bingung apa yang akan dijadikan alasan untuk bertemu. Dia bukan sahabat saya yang bisa seenaknya ditelpon dan mengatakan bahwa saya ingin bertemu. Untungnya dia ingin pergi melihat tempat wawancaranya besok. Jadi saya menawarkan diri untuk mengantarnya pergi.
Entah perasaan apa yang menyergapku ketika berdiri di depan pintunya. Melihat senyum yang pernah selalu meneduhkanku. Mendengar bincang hangat dari seluruh anggota keluarganya menyapaku. Karena begitulah pernah posisi diriku. Akrab dengan seluruh kakak, sampai orang tuanya. Rasa familiar bahwa saya pernah bermimpi menjadi bagian dari keluarga ini. Tapi disinilah saya berdiri sekarang. Orang lain. Hehe.
Setelah pamitan sama ibu dan bapak (dari dulu saya tidak pernah memanggil orangtuanya dengan tante dan om, hehehe) kami pun melintasi Jalan Sungai Saddang menuju Ratulangi. Ada banyak percakapan yang terjadi selama kami berkendara. Percakapan dari hati menurut saya. Walaupun harus bersaing dengan deru kendaraan yang lain, saya tetap menyimak apa yang ditanyakannya. Menjawab dengan jelas apa yang terjadi denganku selama 6 tahun belakangan. Setelah melihat tempat tes wawancaranya, kami pun memutuskan masuk mall ratu indah. Tempat yang mempunyai sejuta kenangan bersamanya.
Raut wajah itu yang tidak pernah bisa saya tolak. Raut wajah yang selalu meneduhkan. Senyum yang selalu bisa membuatku menghela napas bahagia. Selama satu jam kami bertukar cerita. Merangkum apa yang terjadi selama kami tidak bertemu. Merangkum segala peristiwa yang terjadi, karena dia sendiri mengatakan,
”kamu berubah banyak, bal”
Saya hanya ingin menjawabnya,
”saya berubah seperti ini hanya untuk kamu. Bahwa saya bisa berjuang untuk mendapatkan kamu lagi. Saya bukan lelaki yang dulu begitu saja melepasmu pergi”
Tapi itu hanyalah perkataan di dalam kepala saya. Saya mengetahui dari akun di facebooknya bahwa dia sudah in a relationship. Dengan jelas saya bertanya siapa dia. Siapa yang telah menjadi tambatan hatinya. Dan saya hanya bisa mendengarkan. Sambil melihat gurat wajahnya yang begitu bahagia telah bertemu dengan pria yang tepat. Pria lain selain saya (lagi). Saya berbesar hati. Saya tahu cukup lama waktu yang kami lalui untuk memetakan perasaan itu. saya pun sudah menemukan kebaranian saya untuk mengatakan,
”saya pernah begitu mencintaimu. Saya pernah begitu mendambakanmu. Sebagian hati saya kau bawa pergi. Bisakah saya memintanya kembali? Karena saya tahu kamu tidak akan pernah menjadi milikku”
Lagi-lagi ini hanya ada dalam kepalaku. Karena begitulah konsep cintaku kepadanya. Dia tahu bahwa saya begitu mencintainya. Tapi dia tidak perlu menjawab apa-apa. Dia hanya perlu tahu bahwa saya akan selalu ada disini. Berdiri dan menunggunya...
Ps : terima kasih telah membuatku menikmati suasana sore yang menyenangkan. Kamu berhak mendapatkan yang terbaik. Siapapun yang akan mendampingimu kelak.
Flashback
Ada satu kerinduan tersendiri ketika tidak sengaja saya menemukan beberapa tulisan saya yang terdahulu. entah itu untuk mata kuliah, cerpen dan novel yang tidak pernah terselesaikan, sampai tulisan yang tidak jelas yang berkisah tentang perasaan. flashback memory, saya menyebutnya demikian. mencoba kembali membuka jelujur pikiran tentang apa yang terjadi di hari kemarin. bukankah itu esensi dari sebuah tulisan? kita bisa melihat lagi peristiwa untuk kemudian hari.
tulisan ini saya buat ketika menyelesaikan tugas untuk mata kuliah Penulisan Kreatif (kalau tidak salah), dan yang saya bisa lakukan hanyalah menghela nafas bahagia sambil tersenyum membacanya.
Rabu, 22 Februari
Waduh… tampaknya semua mesti diperjuangkan dari awal lagi, masih dalam rangka membuat demo siaran untuk diajukan pada radio Suara Medika, ini merupakan syarat terakhir untuk tes kali ini, untuk menilai sampai sejauh mana taraf kreatif yang kita miliki. Jadilah saya sudah membuat satu konsep yang namanya “Talk Out Lecture”, dimana didalamnya akan dibahas satu hal yang begitu erat dengan keseharian kita dan akan dipandang dari berbagi segi seperti psikologis, humanistic, unik, bahkan sampai ke teknologi terbaru.
Bahannya sudah siap, sekarang yang jadi kendala terbesar yaitu, dimana saya bisa merekam suara saya?, sesudah meminjam headset milik uccank, ternyata tidak bisa dipakai di komputer saya yang ada di rumah, sebab noise yang ditimbulkan begitu besar, aku pun sudah mencari mike eksternal untuk mencoba berbagai macam kemungkinan, tapi tetap tidak bisa! Akhirnya aku menyerah untuk mencobanya di komputer rumahku, sekarang, satu-satunya harapanku yaitu bisa mengerjakannya di komputernya uccank. Tapi Uccank memberikan satu alternatif lain, yaitu mencoba memakai komputer yang ada di laboratorium audio visual. Dengan berniat tulus dan sebagai pengharapan yang terakhir, maka saya pun memohon kepada pak Subhan sebagai penanggung jawab mata kuliah Media Audio Visual untuk masuk di jam kuliahnya besok, memakai satu komputer yang akan merekam suaraku ini. Izinnya sudah dapat, sekarang yang jadi masalah yaitu… listriknya mati!!!
Kamis, 23 Februari
“oh God, Please Help me..”, setelah melalui malam yang tidak menyenangkan, memikirkan deadline pengumpulan demo siaran yan tinggal 2 hari lagi, aku terbangun hari ini dengan harapan yang besar. Bergegaslah saya untuk menyelesaikan semua ritual pagi saya sebelum ke kampus, dan setelah kelar semua, menujulah saya ke laboratorium harapan.
Baru saja saya melangkahkan kaki di FIS IV, saya mendapat satu kenyataan buruk, hujan deras! Waduh, bagaimana nih? Setidaknya ini bisa menjadi banyak sekali factor sehingga saya tidak bisa mengerjakan demo siaranku. Dan ternyata… memang benar! Hmm… Hujan kali ini membuat listriknya mati lagi dan itu Cuma berarti satu hal, komputer yang ada di lab belum bisa di coba plus Pak Subhan belum datang lagi, karena terhambat oleh hujan yang tidak juga reda. Apakah sampai disini saja perjuanganku? Tidak! Dengan berbesar hati saya berharap, semoga hujan reda sehingga pak Subhan bisa datang ke kampus, listrik mengalir dan hore komputer menyala….
Sayapun mendinginkan kepala didalam korps sambil bercanda dengan beberapa teman, kebetulan semua teman lagi sibuk soalnya minus seminggu lagi acara seminar penyiaran yang bekerja sama dengan radio BBC siaran Indonesia dan juga radio Smart, dan teman-teman masih dalam rangka penyebaran undangan ke kampus-kampus.
Daripada menghabiskan waktu dengan menunggu, saya pun mengajukan diri untuk menempel pamflet di sekitaran kampus dan mengantar undangan ke radio EBS dan juga radio yang ada di kampus Politeknik. Dengan ditemani oleh Jamil dan Dhani, menyusurlah kami di selasar-selasar kampus, mencari semua papan pengumuman yang dapat dipakai untuk menempel. Menyeberang Fakultas, melintas hutan dengan keadaan tanah yang becek. Sesampai di Poltek, kami pun mencari himpunan mahasiswa teknik ketika terdengar suara.”Iqbal!!”, ternyata itu sahabatku Nuri yang memang kuliah di Teknik Listrik. Jadilah dia sebagai pengantar kami di kampus Poltek itu menuju ke himpunannya. Setelah memberikan penjelasan sedikit kepada pihak radio kampus, kami pun berniat untuk balik ke korps, dengan rute yang sama, melintas universitas.
Ternyata memang yah, kalau kita berniat baik, pasti ada saja balasannya. Sesampai di kampus… listriknya sudah menyala!!! Akupun segera mencari Uccank untuk menghadap, dan masuk ke dalam Lab untuk mencoba komputer yang ada di dalam. Syukurlah hari ini, setidaknya saya mengetahui komputer mana yang akan saya pakai untuk membuat demo siaran.
Jumat, 24 Februari 2006
Bisa tidak yah demonya selesai hari ini? demi menyelesaikan demo, saya sih sudah berniat untuk tidak masuk kuliah dasar-dasar Publik Relations, tapi kemudian saya berpikir, toh tidak ada gunanya. Daripada bolos dan memiliki perasaan bersalah, mending ikut kuliahnya saya.
Setelah kuliah berakhir, saya pun mencari Uccank untuk masuk di Lab lagi, dan langsung menduduki komputer yang sudah saya tandai sebelumnya yaitu di komputer 6, segera saya menyiapkan bahan siaran dan lagu-lagu yang akan saya masukkan dan berkutat di dalam lab tersebut kurang lebih selama 2 jam penuh!! Kelar sholat Jumat, saya pun memindahkannya ke dalam cd yang nantinya akan saya bawa ke suara medika, dan sejenak saya pun bisa tersenyum dengan riang.
Setelah mengetahui sudah tidak ada lagi yang mau aku lakukan di kampus, akupun menyusur jalan melintas jasbog dan masuk di dalam fakultas kedokteran, lantai 3, dan menyerahkan demo siaran saya. Misi terlaksana!
Sabtu, 25 Februari 2006
Ternyata sudah akhir pekan lagi, dan itu waktunya untuk beristirahat, setelah seminggu yang penuh huru-hara. Tapi, saya sendiri tidak enak, niatnya mau ke kampus lagi, soalnya hari ini ada pelatihan “In House Training”, untuk membuat film, yah lumayanlah belajar gratis, tapi karena rasanya badan ini masih capek sekali, ternyat itu yang menang, maafkan saya teman-teman. Saya juga manusia, butuh istirahat.
Minggu, 26 Februari 2006
Cerah, ceria, membakar, Cuma itu yang terlihat hari ini, dengan matahari yang bersinar cerah. Sungguh hari minggu yang indah! Jadi malas nih kalau bermalas-malasan, jadi saya mengambil cucian yang sudah menumpuk, menumpuk dan menumpuk dari seminggu lalu. Dan kerja rodi dimulai, beresin kamar, ngepel, jemur kasur dan segala kegiatan sacral lainnya, jadinya capek! Malam pun datang tak terasa, kulajukan motornya pace, ke studio Sonata untuk siaran malam. Dan sebagai catatan, ini merupakan siaran malam saya yang terakhir, jadi yah.. rada sedih juga. 3 jam siaran banyak sekali sms yang masuk ke handphone saya, untuk merequest lagu, kok kayaknya malam ini meriah sekali yah? Jadi terharu juga…
Senin, 27 Februari 2006
Banjir… banjir… banjir… saya tenggelam! Hehehe, bercanda lah, tapi mengenai banjir itu bukan berita bohong. Hujan yang sudah sedari malam turun membasahi bumi Makassar, tampaknya belum juga akan menunjukkan tanda-tanda akan reda. Dan tampaknya menjelang pagi hujan semakin deras saja, dan benarlah adanya, air yang ada di kanal depan rumah sudah penuh, itu berarti sudah tidak mampu lagi menampung air. Sekitar pukul 6 pagi air sudah tampak naik di teras rumah, sayapun bersama mace, serta adik menaikkan semua barang diatas tempat tidur, komputer, semua buku-buku saya, pyuhh… semuanya mesti terselamatkan. Memang sih, banjir ini sudah menjadi tradisi tahunan di rumah saya, karena memang posisi rumah yang lebih rendah dari badan jalan, sehingga air semua tergenang depan rumah. Apakah posisi geografis juga berpengaruh? Entahlah, yang jelasnya, rumah saya terletak di tengah-tengah. Di depan kanal, belakang sungai Je’neberang,
Selasa, 28 Februari
“Terkadang ada beberapa hal yang tidak terjadi sesuai harapan kita, dan terkadang bila harapan kita tidak terwujud, yang benar-benar terjadi biasanya justru lebih baik”
- Looking For Alibrandi –
Sedih. Cuma kata itu yang mampu mendiskripsikan perasaanku pagi ini. kenapa, ini merupakan siaran terakhir saya di radio Sonata, acara Morning Sound. Dan selama 3 jam penuh saya menemani semua sahabat sehati sebaya muda, rasanya semua memori dan kenangan di tempat ini berulang dengan cepat, mulai dari masa training, dimarahi oleh bos, sampai masalah dengan teman sesama penyiar. Pagi ini juga sengaja saya memilih semua lagu yang sangat berkesan dengan saya, untuk sedikit mengingatkan akan pertemuan terkhir di tempat ini. well, inilah akhirnya, mungkin ada waktunya aku memikirkan lagi, akan kemana kaki ini melangkah ke hari yang kedepan. Toh setidaknya saya harus berani untuk keluar dari zona aman saya, dan berjuang lagi untuk mencari tempat berpijak yang lain.
Setahun berlalu
Saya ingin berbicara mengenai memori di bulan februari lagi. Kenapa kenangan? Karena dia hidup di masa lalu, makanya disebut kenangan. Dan karena itu pula lah, dia bisa diingat kapanpun ketika kita sedang ingin. Tidak terasa di tahun ini saya sekarang berdiri di luar garis itu. Sekarang saya hanya bisa melihat dari luar saja. Sambil mengingat apa yang terjadi di dalam. Setahun sudah saya keluar dari radio Sonata. Sebenarnya bukan masalah yang besar sih, tapi kalo itu menyangkut radio yang pertama kali saya dengar, pertama kali yang membuat saya ketagihan mendengar musik, nah itu baru menjadi masalah. Karena banyak sekali hal yang terjadi di dalam, ketika saya masih menjadi penyiar disana.
Masih ingatlah waktu jaman-jamannya smp saya masih mendengarkan dan menyaksikan In-Dangdut di televisi, setelah kemudian saya di”cuci otak” oleh kace, nonton mtv land, mtv most wanted, mtv fresh, barulah saya kemudian mencari penyaluran. penyalurannya, ya dengan mencari radio yang bisa menyalurkan kebutuhanku. Dan di radio itulah yang bisa mengerti selera laguku. Jadi ini lah salah satu momen juga kenapa saya memilih radio sebagai konsentrasi media saya (mo buat film, malas. Fotografi, ndak minat). Ketika sekolah di Stm juga saya yang kemudian ketemu dengan salah satu Sonata Lovers juga. Menk namanya. Ketika kita ketemu di skolah, semua orang ngomongin, “eh nonton anu tidak semalam?, eh liat ini tidak di tivi?”, saya tidak. Saya dengan Menk malahan ngobrol “eh sudah dengar lagunya ini belum? Ko dengar morningnya tadi reimahdani?” dan setelah itu sumpah, gak ada yang bisa nyambung kalo ngobrol dengan kita.
Waktu pertama training saya ingat skali di bulan September 2003, pulang dari jaga warnet orang rumah bilang tadi ada telpon dari sonata. Katanya disuruh tes besok. What?! Disinilah awal mulanya. Yo olooooooooo banyaknya yang tes waktu itu. Dan beruntunglah saya menjadi salah satu dari 5 orang yang terpilih selain Lisa, Esther, Pittho, Digo (Miss u So much Folk! Dimana yah kalian sekarang?). training? Deg-deg an rasanya. Setelah sebulan training dan mengerti semua peralatannya, akhirnya saya siaran! Siaran pertama tuh, Pesona Indonesia 2 Jam + Hit radio 1 jam. Wuih, canggih! Mmm.. kalo gak salah list lagu saya pas awal-awal siaran itu,
Marcell – Firasat
Agnes Monica – Bilang Saja
Coklat – Segitiga
Vertical Horizon – I’m Still Here
Kangen!!! Kangen lah rasanya dengan suasana di dalam. Sering juga sih perasaan tak percaya (walopun udah setahunan lebih siaran) “wah suara saya di dengar satu makassar loh!” dan saya sih nyante aja. Banyak sekali orang yang masuk dan keluar disana. Tapi itulah yang membuat kita dekat. Dengan sesama penyiar. Walopun jarang ketemu, tetapi ikatan nya tuh kuat banget. Apalagi “pesan-pesan” yang tertulis di Log Book absen, seru banget! Dari janjian nonton, saling cela, ada semua disitu. Selama di Sonata juga lah saya kemudian bertemu dengan K’ Dila. My Little Fairy. Dialah orang pertama yang ngomong begini ke saya,
“adek, apa yang ko sembunyikan dari saya. Bisa saja kau tutupi, tapi matamu bisa berkata lain”
Dan kemudian dia menjadi orang yang paling bisa mengerti diriku. Menjadi teman ketika saya sudah berada di batas kehancuran dulu (tidak usah lah saya menceritakan kehidupan bagaimana yang saya jalani dulu), menjadi teman jalan, dan menjadi teman siaran paling enak. Mengenai mental, semua orang memang bilang, mental kamu betul-betul diuji ketika masuk di Sonata. Apalagi ketika masa-masa jayanya, yaitu ketika saya masuk. Wuih, disinilah saya ketemu “Bapak”. Yang punya Sonata, yang tinggal disana, yang buka pintu. Dan tentu saja yang marah-marah kalo siaran kita tidak becus. Dan dia kalau marah, begh pelan tapi dalem. Perkataannya ini benar-benar tanpa ampun. Biar kamu lagi siaran juga, kalo lagi naik arisanmu pasti kena marah (walopun seringnya sih tanpa alasan yang jelas. Kalo dia lagi bad mood dan butuh pelampiasan, pasti cari-cari kesalah deh kerjanya!). emosi jiwa, pastilah. Rasanya kalo kena marah itu, kau tidak akan pernah berharap akan ada siaran mu lagi di minggu itu yang harus membuatmu bertatap muka lagi dengan Bapak. Makanya banyak anak-anak yang terkadang tidak tahan dimarahin sama bapak. Dan mereka Cuma bisa bilang, “menyerah maka’. Sampai disini ji saya bisa bertahan”. Tapi memang terbukti sih, dengan semua perkataan keras itu, dengan semua disiplin itu, kita dibentuk menjadi penyiar yang Tough, yang pintar, yang bagus dalam mix lagu. Karena kita serius. Professional dalam kerja, biar mo ada badai juga tetap harus menyiar. Karena banyangin aja, teriakan senior pas ospek tidak ada artinya dibandingkan dengan “ceramah” dari bapak. Hehehehe, maaf!
Rasanya rindu banget ngucapin kalimat ini lagi,
“dari jalur utama sudirman 86, halo sahabat sehati sebaya muda, apa kabar di pagi hari ini. Morning sound hadir setiap pagi mulai dari pukul 6 sampai pukul 9 nanti hanya di 96 Sonata Fm. Bersama saya reza mahendra, siapkan diri kamu untuk suntikan semangat dan adrenalin melalui tembang-tembang yang diharapkan bisa menambah kesegaran di pagi hari, so stay tune I’ll be right back after this one!”
Damn! But life’s go on lah. Tidak mungkin saya selama disana. Tidak mungkin saya menjadi muda selamanya. Dan ya itu langkah terbesar yang saya ambil setahun yang lalu. Keluar dari sana. Setidaknya untuk mempersiapkan diri menjadi penyiar professional, mesti menghilangkan dulu gaya anak mudanya. Toh, secara umur juga udah mulai dewasa. Sudahlah, saya akan selalu merindukan jalanan itu, tangga itu, kursi itu, (walopun saya tidak akan pernah merindukan bapak dengan Bin, si anjing yang telah puas meneriaki kami selama disana). Memori selama 2 setengah tahun akan tersimpan rapi di sudut ingatanku. Dan akan kubuka kembali ketika saya ketemu dengan anak-anak yang dulu. Kenangan, tidak terasa sudah setahun berlalu.
- iQko
- Sedikit apatis, Sedikit sarkastis,Menyukai hujan dan sore hari, Selalu bermimpi.
It may sound absurd…
but don’t be naive
Even heroes have the right to bleed
I may be disturbed…
but won’t you concede
Even heroes have the right to dream
And it’s not easy to be me.
(Five For Fighting - Superman) - June 2011 (1)
- March 2011 (1)
- January 2011 (10)
- December 2010 (3)
- November 2010 (10)
- October 2010 (9)
- September 2010 (8)
- May 2010 (6)
- April 2010 (2)
- March 2010 (5)
- February 2010 (2)
- January 2010 (4)
- December 2009 (3)
- November 2009 (2)
- September 2009 (1)
- August 2009 (2)
- July 2009 (13)
- June 2009 (7)
- May 2009 (1)
- April 2009 (8)
- March 2009 (3)
- September 2008 (1)
- August 2008 (3)
- July 2008 (4)
- June 2008 (2)
- May 2008 (2)
- April 2008 (6)
- March 2008 (2)
- February 2008 (1)
- January 2008 (2)
- December 2007 (5)
- November 2007 (1)
- October 2007 (2)
- September 2007 (3)
- June 2007 (2)
- May 2007 (3)
- April 2007 (5)
- March 2007 (6)
- February 2007 (6)
- January 2007 (5)
- December 2006 (10)
- November 2006 (13)
- October 2006 (4)
- September 2006 (11)
- August 2006 (9)
- July 2006 (13)
-
-
-
-
Surat Suara Tanpa Angka12 years ago
-
Tidak Ada Piala Dunia Tahun Ini1 month ago
-
Bersambung11 years ago
-
Belanja Hemat dengan Harga Teman7 years ago
-
-
-
Online Bingo Frequently Asked Question10 years ago
-
-
luka kali ini9 years ago
-
I had to go on welfare17 years ago
-
-
-
Hello world!1 year ago
-
ani dan teman kecilnya10 years ago
-
Seketika Ke Sukabumi6 years ago
-
-
Nestle Dancow Explore Your World8 years ago
Search
About Me